Oleh : Supratikno Rahardjo, dkk
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1996
Tebal : 67 halaman
Buku Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra mengulas peran penting Sunda Kelapa sebagai salah satu bandar maritim strategis di Nusantara yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Sunda Kelapa bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam arus perdagangan global yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.
Isi buku ini menjelaskan bahwa sejak awal masehi, kawasan Sunda Kelapa telah berkembang sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir barat laut Jawa menjadikan Sunda Kelapa titik persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas niaga di pelabuhan ini melibatkan komoditas penting seperti lada, hasil hutan, dan produk pertanian yang menjadi daya tarik utama pedagang asing. Dengan demikian, Sunda Kelapa berperan besar dalam menghubungkan hinterland Jawa Barat dengan pasar internasional.
Dalam buku ini, Sunda Kelapa juga digambarkan sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Interaksi antara pedagang lokal dan asing melahirkan dinamika sosial yang kosmopolitan. Pengaruh budaya Tiongkok, India, Arab, dan kemudian Eropa tercermin dalam catatan sejarah, temuan arkeologis, serta tradisi lisan yang berkembang di kawasan pelabuhan. Buku ini juga menekankan bahwa proses pertukaran ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga membawa dampak pada perkembangan budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.
Aspek politik turut menjadi perhatian penting dalam buku ini. Sunda Kelapa diposisikan sebagai aset strategis yang menentukan kekuatan Kerajaan Sunda. Penguasaan atas pelabuhan berarti kontrol terhadap jalur perdagangan dan sumber pendapatan kerajaan. Buku ini menguraikan bagaimana persaingan antar kekuatan regional dan global—termasuk masuknya Portugis pada abad ke-16—mengubah lanskap politik dan ekonomi Sunda Kelapa. Peristiwa jatuhnya Sunda Kelapa dan perubahan namanya menjadi Jayakarta menandai berakhirnya peran pelabuhan ini di bawah Kerajaan Sunda, sekaligus membuka babak baru sejarah kawasan tersebut.
Dalam buku ini juga menekankan pentingnya melihat Sunda Kelapa dalam konteks Jalur Sutra Maritim yang lebih luas. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan bandar-bandar lain di Nusantara yang saling terhubung. Dengan perspektif ini, buku tersebut memperkuat pemahaman bahwa Nusantara sejak lama telah terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia, jauh sebelum era kolonialisme modern.

No comments:
Post a Comment