Sunday, August 18, 2019

The Google Boys

Inspirasi Sukses Google dari Pendirinya, Sergey Brin dan Larry Page


Oleh : George Beahm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 153 halaman


Google lahir dan tumbuh dari rasa haus akan informasi, bukan seperti perusahaan dot com pada umumnya yang mencari ketenaran ataupun kesuksesan finansial.

Tahun 1973. Tanggal 26 Maret 1973, Larry Page lahir dan pada tanggal 21 Agustus 1973, Sergey Brin lahir. Tahun 1995, Larry Page bertemu dengan Sergey Brin di Stanford University. Bulan Mei 1995 Page lulus dengan gelar B.A. dari College of Engineering, University of Michigan. Sedangkan Brin lulus dengan gelar M.S. dari Stanford University.

Tahun 1996, Page dan Brin bekerja sama membuat search engine (mesin pencari web) dengan nama BackRub yang kemudian berubah nama menjadi Google.

Bulan Agustus 1998, Google dengan nama perusahaan Google Inc mendapatkan dana $100.000 dari Andy Bechtolsheim. Kemudian Google secara resmi berdiri pada tanggal 4 September 1998.

Bulan Juni 1999, Google mendapatkan pendanaan sebesar $25 juta dari Sequoia Capital dan Kleiner Perkins.

Tahun 2000, Google menjadi search engine terbesar dengan indeks 1 miliar laman web.

Agustus tahun 2004, dalam IPO Google, sahamnya dijual dengan harga perdana $85 per lembar, berjumlah 19.605.052 saham. Saat itu tidak seorang pun yang tahu cara menghasilkan uang dari search engine.

Tahun 2004, Google bertemu dengan Andy Rubin, sang pencipta Android. Sebelumnya mereka mempunyai lemari berisi lebih dari 100 telepon, dan saat itu Andy percaya bahwa jika dibuat standar 1 sistem operasi open source, maka inovasi bakal bergerak di seluruh industri handphone.

Oktober 2006, Google membeli YouTube dengan harga $1.65 miliar.

November 2007, Google merilis Android sebagai OS open platform untuk handphone atau smartphone.

Mei 2008, Page mengatakan pada majalah Fortune, bahwa Google mempunyai formula 70/20/10, yaitu dimana 70% sumber daya dipergunakan pada bisnis inti, 20% digunakan untuk proyek yang masih berhubungan dengan bisnis inti, dan 10% dipergunakan untuk proyek yang tidak ada hubungannya dengan bisnis inti. Dari 10% ini banyak orang beranggapan ini hanya buang-buang uang saja, tapi dari sanalah semua barang baru berasal.

Juli 2008, Google mengindeks 1 triliun laman web.

Mei 2010, Google berinvestasi 2 ladang kincir angin sebagai energi terbarukan dengan 169.5 megawatt listrik.

Mei 2011, penjualan AdWords menghasilkan $64 miliar.

18 April 2014, harga saham Google $536.10, kapitalisasi pasar perusahaan Google adalah 363.39 miliar.

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Friday, August 9, 2019

Kisah, Perjuangan & Inspirasi Chairul Tanjung


Oleh : Punto Ali Fahmi
Penerbit : Checklist, 2018
Tebal : 200 halaman


Ayah Chairul Tanjung merupakan seorang yang idealis, bahkan ideologi yang beliau anut menjadi seperti harga mati. Bagi orang jaman dulu, idealisme lah yang bisa membuat negara Indonesia menuju kemerdekaan.

Beberapa kejadian yang menimpa keluarga Chairul Tanjung, menjadi pelajaran berharga bagi dia dimana idealis itu perlu, tapi tetap harus bersikap realistis. Idealis tidak boleh menjadi harga mati, karena membangung negeri tidak harus dengan mengacaukan sistem yang sudah ada.

Sosok seorang ayah bagi Chairul Tanjung adalah tidak pernah putus asa dan selalu bekerja keras demi keluarga dan menjadikan dia tidak pernah main-main dalam menjalani hidup.

Chairul Tanjung sangat posesif terhadap ibunya, bahkan saking khawatirnya, dia selalu memperhatikan jam makan ibunya, jam tidur ibunya, hari ini ibunya mengalami hal apa, apakah ada yang menyakiti hati ibunya.

Chairul Tanjung pernah mendapat tugas berjualan es mambo, kacang dan jajanan dari sekolah saat SD pada jam istirahat. Sehingga tertanam pedoman dalam diri Chairul Tanjung mengenai tanggung jawab dan tidak sekedar mengejar keuntungan.

Saat bersekolah Chairul Tanjung masuk ke dalam grup teater, dimana dari teater ini dia belajar mengenai prinsip hidup yang hingga kini dia pegang, yaitu "harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar".

Saat kuliah, banyak teman mahasiswa kedokteran gigi yang kesulitan mencari alat kedokteran, insting bisnis Chairul Tanjung pun muncul. Dia kemudian mencari penyuplai yang bisa membeli langsung dari importir.

Tahun 1987, Chairul Tanjung sempat menjadi kontraktor dengan proyek pertama yang menangani pembangunan sebuah pabrik sumpit di Citeurup, Bogor.

Proyek kedua adalah saat merenovasi pabrik sepatu Kasogi di Kapuk Muara. Yang kemudian menjadikan Chairul Tanjung berkenalan dengan Michael Chiam, yang kemudian dari sana tercetus untuk membuat pabrik sepatu sendiri dengan nama PT Pariarti Shindutama dengan modal 150 juta dari dia.

Mulanya order yang masuk hanya 12.000 pasang beach sandal, makin lama kemudian order yang masuk adalah sejumlah 240.000 pasang.

Tahun 1992, Chairul Tanjung memiliki 4 pabrik dan 1 industri Para Group.

Saat Chairul Tanjung membeli Bank Mega, dia dapat menemukan penyakit yang diderita oleh Bank Mega, dengan saldo merah sebesar Rp 90 miliar, dengan kredit macet sebanyak 90%, plus diperparah dnegan teknologi yang minim, yaitu dimana Bank Mega tersebut hanya memiliki 2 komputer saja. Satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya.

Penghematan pun dilakukan besar-besaran, misalnya dengan memastikan setiap jam 6 sore lampu harus mati, jika masih ada keperluan maka harus menggunakan sumber penerangan yang dicolokkan ke saklar.

Pola kerja juga dirubah dengan menerapkan penggunaan teknologi yang lebih canggih untuk menggantikan penggunaan alat manual.

Tahun 1994, Chairul Tanjung membeli aset dari kredit macet Bank Exim berupa gedung dengan peralatan lengkap sebuah studio untuk shooting di daerah Kemang, Jakarta. Chairul Tanjung pun membuat sinetron yang ditawarkan ke stasiun TV swasta berdasarkan surat pesanan yang diterima.

Namun penolakan yang didapat oleh dia. Dan penjelasan dari Direktur Program dikatakan bahwa surat pesanan tersebut tidak bersifat mengikat.

Kekecewaan dan kemarahan Chairul Tanjung pun membuat dia bertekad untuk membuat stasiun TV sendiri.

Kemudian Chairul Tanjung membangun stasiun TV dengan nama PT Televisi Transformasi Indonesia, yang kemudian kita kenal dengan nama Trans TV. Dalam pembangunannya Chairul Tanjung berkonsultasi dengan pengelola RCTI, yaitu Peter F. Gontha dan Alex Kumara.

Saat merekrut 250 karyawan, sebanyak 70.000 pelamar yang masuk. Chairul Tanjung mengedepankan fresh graduate, agar muncul semangat baru di Trans TV yang penuh dengan kreativitas.

Trans TV pun melakukan siaran pertama pada bulan Desember tahun 2001. Mulanya masih belum banyak profit, bahkan lebih banyak pengeluaran. Pada bulan September 2004, Chairul Tanjung menyadari bahwa dikarenakan menginginkan persembahan terbaik, sehingga Trans TV terlalu banyak membeli program dari luar. Untuk menekan biaya produksi, maka dibuatlah in house program.

Tahun 1996, Chairul Tanjung dengan Para Group mendapatkan kepemilikan Bank Karman yang kemudian menjadi bagian dari Bank Mega pada tahun 1997. Termasuk kemudian membeli Bank Tugu menjadi Bank Mega Syariah.

Pada tanggal 6 Agustus 2006, Chairul Tanjung membeli 55% saham milik TV7 yang kemudian TV7 berubah nama menjadi Trans 7.

Pada tanggal 16 April 2010, Chairul Tanjung dalam CT Group membeli 40% saham Carefour, yang kemudian saat ini kita kenal dengan Transmart.

Kerajaan bisnis Chairul Tanjung sebagai berikut :
  1. Bidang Finansial : Bank Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Syariah.
  2. Bidang Investasi : Beli saham Carrefour Indonesia
  3. Bidang Penyiaran & Multimedia : Trans TV, Trans 7, Mahagaya Perdana, Trans Fashion,, Trans Lifestyle dan Trans Studio.
Modal Chairul Tanjung dalam berbisnis menurut dia adalah bahasa atau suara, dan memperluas pertemanan yang tentunya menjadi pilar utama. Kemudian kecerdasan kita dalam membagi waktu.

Pesan dari Chairul Tanjung adalah "Jangan salahkan di mana kamu tinggal, namun belajarlah dari mana kamu tinggal. Setelah itu, potensi yang dimiliki langsung dikembangkan".

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Saturday, August 3, 2019

Buku Pegangan Pencari Kerja


Oleh : Iskandarsyah Muhammad

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 136 halaman


Dalam buku ini Dik Doank memberikan kata pengantar, bahwa dalam memasuki dunia kerja ibarat kita memasuki "rumah baru", untuk itu kita harus mempunyai "kunci", diantaranya kita harus melakukan "perkenalan" dengan interview,  sehingga diperlukan sikap yang baik dalam bersikap dan berbicara.

Dalam interview terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu :
  • Phone interview
  • Face to face interview
  • Group interview
  • Walk in interview
  • Job fair interview
Namun sebelum dilakukan interview, kita harus membuat surat lamaran dan lampiran CV atau Curiculum Vitae, setidaknya ada 8 unsur yang harus ada pada CV yang baik, yaitu
  1. Data diri yang terperinci
  2. Latar belakang pendidikan
  3. Kegiatan organisasi
  4. Proyek yang pernah dilakukan
  5. Pengalaman bekerja
  6. Penghargaan yang pernah diraih
  7. Kelebihan
  8. Foto diri
Setidaknya ada 5 karakteristik tipe karyawan yang baik dan yang dicari, yaitu :
  1. Sistematis dan terstruktur
  2. Berpikiran terbuka
  3. Berorientasi pada target dan proses
  4. Percaya diri dan konsisten
  5. Ramah dan menyenangkan
#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Featured Post

Ya Allah, Maaf Saya Tidak Ada Waktu Untuk-Mu

Oleh : Dewi Ahmad Zarkasi Penerbit : Mueeza, 2016 Tebal : 292 halaman

Related Posts