Potret Buku
Belajar adalah sarana memperbarui diri, tanpa belajar kita akan terperangkap pada masa lalu
Wednesday, February 4, 2026
Suma Oriental
Tuesday, January 27, 2026
Majapahit Peradaban Maritim
Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia
Oleh : Irawan Djoko Nugroho
Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010
Tebal : 422 halaman
Buku Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia karya Irawan Djoko Nugroho menghadirkan perspektif segar tentang Kerajaan Majapahit yang selama ini lebih sering dipahami sebagai kekuatan agraris dan politik daratan. Melalui pendekatan sejarah maritim, buku ini menegaskan bahwa kejayaan Majapahit justru bertumpu pada kemampuannya menguasai jalur laut, pelabuhan, dan jaringan perdagangan internasional yang membentang luas di kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.
Isi buku ini menguraikan bahwa Majapahit tidak sekadar menguasai wilayah secara teritorial, tetapi membangun sistem kendali atas pelabuhan-pelabuhan strategis Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan tersebut berfungsi sebagai simpul ekonomi, logistik, dan diplomasi yang menghubungkan Majapahit dengan pusat-pusat perdagangan dunia seperti Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Afrika Timur. Dalam pandangan penulis, penguasaan pelabuhan inilah yang menjadikan Majapahit mampu mengatur arus komoditas, pajak, dan pengaruh politik di kawasan maritim Asia.
Irawan Djoko Nugroho juga menjelaskan bagaimana Majapahit membangun kekuatan laut sebagai fondasi utama peradaban maritimnya. Armada laut tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai sarana pengamanan jalur niaga dan penegasan kedaulatan. Buku ini menggambarkan laut bukan sebagai pemisah antarpulau, melainkan sebagai ruang pemersatu Nusantara, tempat berlangsungnya interaksi ekonomi dan budaya yang intens.
Aspek budaya maritim menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Majapahit digambarkan sebagai peradaban kosmopolitan yang terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas lokal. Pertemuan antara pedagang, pelaut, dan utusan dari berbagai bangsa melahirkan pertukaran gagasan, teknologi pelayaran, seni, dan sistem administrasi. Dalam konteks ini, laut menjadi medium utama penyebaran budaya dan pengetahuan, sekaligus sarana integrasi antarwilayah Nusantara.
Buku ini juga menantang narasi sejarah yang terlalu menitikberatkan pada konsep penaklukan darat. Menurut penulis, kekuasaan Majapahit lebih bersifat hegemonik-maritim, di mana kendali ekonomi dan pelabuhan lebih menentukan daripada pendudukan wilayah secara langsung. Melalui sistem aliansi, pengaruh dagang, dan pengawasan jalur laut, Majapahit mampu menciptakan stabilitas regional yang mendukung kejayaan ekonominya dalam jangka panjang.
Pada bagian akhir, Majapahit Peradaban Maritim mengajak pembaca untuk meninjau ulang identitas Indonesia sebagai bangsa bahari. Irawan Djoko Nugroho menegaskan bahwa kejayaan Majapahit memberikan pelajaran strategis bagi Indonesia modern tentang pentingnya laut, pelabuhan, dan konektivitas maritim dalam membangun kedaulatan dan kemakmuran nasional. Buku ini bukan hanya kajian sejarah, tetapi juga refleksi tentang masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Wednesday, January 21, 2026
Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra
Oleh : Hasan Muarif Ambary
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997
Tebal : 175 halaman
Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengungkap peran penting Banten sebagai salah satu kota pelabuhan utama Nusantara yang terhubung langsung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Banten sebagai pusat aktivitas ekonomi, politik, dan budaya yang menjembatani dunia Timur dan Barat sejak masa pra-kolonial hingga awal kedatangan bangsa Eropa.
Isi buku ini menjelaskan bahwa letak geografis Banten yang strategis di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya pelabuhan transit yang vital bagi kapal-kapal dagang dari Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Komoditas utama seperti lada, hasil bumi, dan produk kerajinan menjadi daya tarik utama yang mengundang pedagang dari berbagai wilayah untuk singgah dan berdagang. Buku ini menunjukkan bahwa kemakmuran Banten tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya mengelola perdagangan laut dan menjaga stabilitas jalur pelayaran.
Buku ini juga mengulas dinamika politik Kesultanan Banten sebagai kekuatan maritim yang mandiri dan berdaulat. Penguasaan atas pelabuhan dan jaringan dagang memberikan Kesultanan Banten posisi tawar yang kuat dalam hubungan internasional. Digambarkan bagaimana Banten mampu menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan berbagai kekuatan asing, sekaligus menghadapi tekanan dan persaingan dari bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda, yang berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Aspek kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Banten digambarkan sebagai kota kosmopolitan tempat bertemunya berbagai etnis, agama, dan tradisi. Interaksi antara pedagang lokal, Arab, Tiongkok, India, dan Eropa melahirkan kehidupan sosial yang majemuk. Proses ini turut mempercepat penyebaran Islam di kawasan Banten, yang kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan dakwah Islam di Jawa Barat.
Dalam buku ini juga menyoroti peninggalan arkeologis Banten sebagai bukti kejayaan kota pelabuhan ini. Masjid, benteng, makam, dan struktur kota lama menjadi saksi bisu aktivitas maritim dan perdagangan yang pernah berlangsung. Melalui analisis terhadap tinggalan-tinggalan tersebut, buku ini memperkuat pemahaman bahwa Banten merupakan bagian integral dari Jalur Sutra Maritim dan memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia.
Wednesday, January 14, 2026
Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra
Oleh : Supratikno Rahardjo, dkk
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1996
Tebal : 67 halaman
Buku Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra mengulas peran penting Sunda Kelapa sebagai salah satu bandar maritim strategis di Nusantara yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Sunda Kelapa bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam arus perdagangan global yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.
Isi buku ini menjelaskan bahwa sejak awal masehi, kawasan Sunda Kelapa telah berkembang sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir barat laut Jawa menjadikan Sunda Kelapa titik persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas niaga di pelabuhan ini melibatkan komoditas penting seperti lada, hasil hutan, dan produk pertanian yang menjadi daya tarik utama pedagang asing. Dengan demikian, Sunda Kelapa berperan besar dalam menghubungkan hinterland Jawa Barat dengan pasar internasional.
Dalam buku ini, Sunda Kelapa juga digambarkan sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Interaksi antara pedagang lokal dan asing melahirkan dinamika sosial yang kosmopolitan. Pengaruh budaya Tiongkok, India, Arab, dan kemudian Eropa tercermin dalam catatan sejarah, temuan arkeologis, serta tradisi lisan yang berkembang di kawasan pelabuhan. Buku ini juga menekankan bahwa proses pertukaran ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga membawa dampak pada perkembangan budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.
Aspek politik turut menjadi perhatian penting dalam buku ini. Sunda Kelapa diposisikan sebagai aset strategis yang menentukan kekuatan Kerajaan Sunda. Penguasaan atas pelabuhan berarti kontrol terhadap jalur perdagangan dan sumber pendapatan kerajaan. Buku ini menguraikan bagaimana persaingan antar kekuatan regional dan global—termasuk masuknya Portugis pada abad ke-16—mengubah lanskap politik dan ekonomi Sunda Kelapa. Peristiwa jatuhnya Sunda Kelapa dan perubahan namanya menjadi Jayakarta menandai berakhirnya peran pelabuhan ini di bawah Kerajaan Sunda, sekaligus membuka babak baru sejarah kawasan tersebut.
Dalam buku ini juga menekankan pentingnya melihat Sunda Kelapa dalam konteks Jalur Sutra Maritim yang lebih luas. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan bandar-bandar lain di Nusantara yang saling terhubung. Dengan perspektif ini, buku tersebut memperkuat pemahaman bahwa Nusantara sejak lama telah terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia, jauh sebelum era kolonialisme modern.
Wednesday, January 7, 2026
Kerajaan Tarumanegara
Oleh : Luki Mufti Fikri
Penerbit : Pustaka Buana, 1996
Tebal : 99 halaman
Buku Kerajaan Tarumanegara karya Luki Mufti Fikri membahas secara mendalam salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan peradaban awal Indonesia. Melalui pendekatan sejarah dan arkeologi, buku ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul, struktur kekuasaan, kehidupan sosial, serta pengaruh kebudayaan Kerajaan Tarumanegara yang berkembang di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi.
Dalam buku ini, Tarumanegara digambarkan sebagai kerajaan bercorak Hindu yang tumbuh di kawasan strategis dekat sungai dan jalur perdagangan. Luki Mufti Fikri menjelaskan bahwa Sungai Citarum memiliki peran sentral dalam kehidupan kerajaan, baik sebagai sumber penghidupan, sarana transportasi, maupun simbol kekuasaan. Dari sungai inilah Tarumanegara memperoleh kekuatan ekonomi dan politik, sekaligus membangun hubungan dagang dengan wilayah lain di Nusantara dan Asia Selatan.
Sosok Raja Purnawarman menjadi tokoh sentral dalam pembahasan buku ini. Ia digambarkan sebagai raja yang kuat, visioner, dan memiliki kemampuan administratif yang baik. Melalui prasasti-prasasti seperti Prasasti Tugu, Ciaruteun, Kebon Kopi, dan Jambu, buku ini menunjukkan bagaimana Purnawarman menegaskan kekuasaannya sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat. Pembangunan saluran air dan pengelolaan sungai menjadi bukti bahwa Tarumanegara telah memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dan berorientasi pada kemakmuran bersama.
Luki Mufti Fikri juga menguraikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tarumanegara yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, khususnya aliran Wisnu. Pengaruh India tampak jelas dalam bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang digunakan pada prasasti, namun buku ini menegaskan bahwa budaya lokal tetap memainkan peran penting. Akulturasi antara unsur lokal dan Hindu melahirkan bentuk kebudayaan khas Nusantara yang tidak sepenuhnya meniru India, melainkan mengolahnya sesuai konteks setempat.
Selain aspek politik dan budaya, buku ini membahas runtuhnya Tarumanegara secara bertahap. Melemahnya kekuasaan pusat, perubahan jalur perdagangan, serta munculnya kerajaan-kerajaan baru seperti Sunda dan Galuh menjadi faktor penting dalam kemunduran Tarumanegara. Luki Mufti Fikri menekankan bahwa runtuhnya kerajaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi politik yang melahirkan struktur kerajaan baru di Jawa Barat.
Pada bagian akhir, buku Kerajaan Tarumanegara menempatkan Tarumanegara sebagai tonggak penting sejarah Indonesia awal. Kerajaan ini tidak hanya menjadi bukti tertua keberadaan negara terorganisir di Nusantara, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan, pengelolaan lingkungan, dan hubungan internasional sejak masa awal sejarahnya.
Secara keseluruhan, buku karya Luki Mufti Fikri ini memberikan gambaran utuh tentang Kerajaan Tarumanegara sebagai cikal bakal peradaban Hindu di Indonesia. Dengan bahasa yang relatif mudah dipahami dan berbasis pada sumber sejarah yang kuat, buku ini relevan bagi pelajar, peneliti, maupun pembaca umum yang ingin memahami akar sejarah Nusantara secara lebih mendalam.
Wednesday, December 31, 2025
Makasar sebagai Kota Maritim
Oleh : Abdul Rasjid
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 2000
Tebal : 90 halaman
Buku Makasar sebagai Kota Maritim karya Abdul Rasjid mengulas peran penting Makasar sebagai salah satu pusat peradaban maritim terbesar di Nusantara. Buku ini menempatkan Makasar bukan sekadar sebagai kota pelabuhan, melainkan sebagai simpul strategis perdagangan, kebudayaan, dan kekuatan politik berbasis laut yang membentuk sejarah kawasan Indonesia Timur dan Asia Tenggara.
Isi buku ini menelusuri perkembangan Makasar sejak masa kerajaan Gowa dan Tallo, ketika wilayah ini tumbuh sebagai kekuatan maritim yang terbuka terhadap dunia luar. Abdul Rasjid menjelaskan bahwa letak geografis Makasar yang menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional menjadikannya pelabuhan alami yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, mulai dari Nusantara, Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan inilah yang mendorong Makasar berkembang menjadi kota kosmopolitan dengan dinamika ekonomi yang kuat.
Dalam buku ini, Makasar digambarkan sebagai kota pelabuhan bebas yang menganut prinsip keterbukaan perdagangan. Siapa pun dapat berdagang tanpa diskriminasi, sebuah konsep yang berbeda dari praktik monopoli yang diterapkan bangsa Eropa pada masa kolonial. Prinsip ini membuat Makasar cepat berkembang sebagai pusat distribusi rempah-rempah dan komoditas maritim lainnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penghubung antara wilayah barat dan timur Nusantara.
Abdul Rasjid juga menyoroti kekuatan maritim Makasar yang bertumpu pada teknologi pelayaran dan tradisi bahari masyarakatnya. Perahu-perahu tradisional seperti pinisi menjadi simbol keunggulan orang Makasar dalam navigasi laut dan perdagangan jarak jauh. Budaya pelaut yang kuat membentuk karakter masyarakat Makasar yang berani, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yang turut memengaruhi etos kerja dan semangat perniagaan mereka.
Buku ini tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga menguraikan dinamika politik dan konflik yang melibatkan Makasar, terutama dengan VOC Belanda. Abdul Rasjid menjelaskan bagaimana persaingan kepentingan dagang dan upaya monopoli VOC berujung pada Perjanjian Bongaya, yang menjadi titik balik melemahnya kekuatan maritim Makasar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan laut tidak hanya ditentukan oleh armada dan pelabuhan, tetapi juga oleh strategi politik dan diplomasi internasional.
Pada bagian akhir, Makasar sebagai Kota Maritim menekankan pentingnya melihat kembali identitas maritim Makasar dalam konteks Indonesia modern. Abdul Rasjid mengajak pembaca memahami bahwa kejayaan masa lalu Makasar sebagai kota maritim menyimpan pelajaran berharga tentang pengelolaan pelabuhan, keterbukaan ekonomi, serta peran laut sebagai penghubung peradaban. Warisan sejarah ini menjadi dasar penting untuk membangun kembali visi Indonesia sebagai negara maritim.
Secara keseluruhan, buku Makasar sebagai Kota Maritim memberikan perspektif sejarah yang komprehensif tentang bagaimana laut membentuk Makasar sebagai pusat perdagangan, budaya, dan kekuasaan. Buku ini relevan bagi pembaca yang tertarik pada sejarah maritim Nusantara, identitas kota pelabuhan, dan peran strategis Indonesia dalam jalur pelayaran dunia.
Wednesday, December 24, 2025
Kerajaan Sriwijaya
Oleh : Nia Kurnia
Penerbit : Girimukti Pasaka, 1983
Tebal : 154 halaman
Buku Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia mengajak pembaca mengenal salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara, yaitu Sriwijaya. Melalui bahasa yang ringan namun informatif, buku ini memaparkan bagaimana Sriwijaya tumbuh sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional dan menjadi pusat keagamaan Buddha di Asia Tenggara selama berabad-abad.
Isi buku ini menjelaskan bahwa Sriwijaya berkembang sekitar abad ke-7 Masehi dengan pusat kekuasaan yang diyakini berada di wilayah Sumatra bagian selatan. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali lalu lintas dagang antara India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia menggambarkan bagaimana kekuatan Sriwijaya tidak bertumpu pada wilayah daratan yang luas, melainkan pada kemampuan menguasai laut, pelabuhan, dan jaringan niaga antarpulau.
Dalam buku ini, pembaca diperkenalkan pada sumber-sumber sejarah Sriwijaya, seperti prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, dan Telaga Batu, serta catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing. Melalui sumber-sumber tersebut, Sriwijaya digambarkan sebagai kerajaan yang terorganisasi dengan baik, memiliki sistem administrasi, serta menjunjung tinggi konsep kekuasaan raja sebagai pelindung kesejahteraan dan stabilitas kerajaan.
Nia Kurnia juga menyoroti peran Sriwijaya sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha Mahayana. Banyak pendeta dari Tiongkok dan India singgah di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda. Hal ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga pusat intelektual dan spiritual yang disegani di kawasan Asia.
Buku ini tidak mengabaikan sisi kemiliteran Sriwijaya. Armada laut yang kuat menjadi tulang punggung pertahanan dan pengaruh kerajaan. Dengan kekuatan maritim tersebut, Sriwijaya mampu menjaga keamanan jalur perdagangan sekaligus menekan wilayah-wilayah yang menentang kekuasaannya. Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan di India, turut memperkuat posisi Sriwijaya di panggung internasional.
Pada bagian akhir, buku Kerajaan Sriwijaya membahas kemunduran kerajaan ini, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti serangan Kerajaan Chola dari India Selatan, melemahnya kontrol atas jalur perdagangan, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru di Nusantara. Meskipun akhirnya runtuh, Nia Kurnia menegaskan bahwa warisan Sriwijaya tetap hidup dalam tradisi maritim, budaya, dan sejarah Indonesia.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan gambaran utuh tentang Sriwijaya sebagai simbol kejayaan maritim Nusantara. Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana laut, perdagangan, dan budaya membentuk identitas bangsa Indonesia sejak masa lampau.
Featured Post
Suma Oriental
Oleh : Tome Pires Penerbit : IRCiSoD, 2025 Tebal : 378 halaman Buku Suma Oriental karya Tomé Pires merupakan salah satu sumber paling pentin...
Related Posts
-
Menjadi Entrepeneur Startup Oleh : Hendry E. Ramdhan Penerbit : Penebar Plus, 2016 Tebal : 203 halaman Buku ini dibuka de...
-
Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia Oleh : Irawan Djoko Nugroho Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010 Tebal : 422 halaman...
-
Oleh : Tome Pires Penerbit : IRCiSoD, 2025 Tebal : 378 halaman Buku Suma Oriental karya Tomé Pires merupakan salah satu sumber paling pentin...
-
Oleh : Haruki Murakami Penerbit : Bentang Pustaka, 2025 Tebal : 183 halaman Tidak masalah sekecil apapun yang kita lakukan, namun jika itu k...
-
Oleh : Bill Perkins Penerbit : Houghton Mifflin Harcourt Publishing, 2020 Tebal : 216 halaman Hidup Sekarang, Nikmati Momen, dan Wariskan Pe...





