Wednesday, February 25, 2026

Life of Pi

Oleh : Yann Martel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2013

Tebal : 446 halaman

Novel Life of Pi adalah kisah tentang bertahan hidup yang melampaui sekadar perjuangan fisik melawan alam. Ditulis oleh Yann Martel, cerita ini mengikuti perjalanan Piscine Molitor Patel—yang kemudian dikenal sebagai Pi—seorang remaja asal India yang tumbuh dalam keluarga pemilik kebun binatang di kota Pondicherry. Sejak kecil, Pi memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap agama dan spiritualitas. Ia mempelajari dan mempraktikkan tiga agama sekaligus: Hindu, Kristen, dan Islam. Bagi Pi, iman bukanlah batasan, melainkan jembatan untuk memahami makna kehidupan.

Perjalanan hidupnya berubah drastis ketika keluarganya memutuskan pindah ke Kanada bersama sejumlah hewan dari kebun binatang mereka. Kapal yang mereka tumpangi karam di Samudra Pasifik akibat badai dahsyat. Pi menjadi satu-satunya manusia yang selamat, terombang-ambing di sekoci bersama beberapa hewan, termasuk seekor harimau Bengal bernama Richard Parker. Dari titik inilah novel memasuki inti dramatiknya: perjuangan seorang remaja menghadapi laut luas, rasa lapar, ketakutan, dan ancaman predator yang setiap saat bisa menerkamnya.

Hubungan antara Pi dan Richard Parker menjadi pusat ketegangan sekaligus simbol penting dalam cerita. Alih-alih membunuh harimau itu, Pi justru memilih untuk melatih dan “menguasainya” demi kelangsungan hidup bersama. Ia menyadari bahwa selama harimau itu hidup, ia memiliki alasan untuk tetap waspada dan berjuang. Dalam kesendirian yang nyaris membuatnya gila, keberadaan Richard Parker menjadi jangkar psikologis yang menahan Pi dari keputusasaan total. Interaksi mereka bukan sekadar konflik manusia dan binatang, tetapi alegori tentang naluri, ketakutan, dan sisi liar dalam diri manusia sendiri.

Di tengah lautan yang tak bertepi, Pi mengalami berbagai peristiwa luar biasa, termasuk menemukan pulau misterius yang tampak seperti surga namun menyimpan bahaya tersembunyi. Episode ini memperkuat nuansa filosofis novel, mengaburkan batas antara kenyataan dan imajinasi. Sepanjang cerita, Martel membangun atmosfer yang membuat pembaca terus mempertanyakan apa yang nyata dan apa yang metaforis.

Pada bagian akhir, Pi akhirnya diselamatkan di Meksiko. Namun ketika dimintai keterangan oleh pihak berwenang tentang apa yang sebenarnya terjadi di laut, ia menawarkan dua versi cerita: satu dengan hewan-hewan, satu lagi dengan manusia yang saling membunuh demi bertahan hidup. Kedua kisah itu memiliki struktur yang serupa, tetapi implikasinya sangat berbeda. Martel kemudian menyerahkan pilihan kepada pembaca: kisah mana yang ingin dipercaya? Pertanyaan ini menjadi inti refleksi novel—tentang iman, kebenaran, dan kebutuhan manusia akan makna.

Life of Pi bukan hanya cerita survival, melainkan meditasi tentang kekuatan keyakinan dan imajinasi dalam menghadapi penderitaan. Yann Martel menunjukkan bahwa dalam kondisi paling ekstrem, manusia tidak hanya bertahan dengan tubuhnya, tetapi juga dengan cerita yang ia pilih untuk percaya. Novel ini mengajak pembaca merenungkan bahwa terkadang, kisah yang lebih indah bukanlah kebohongan, melainkan cara manusia menyelamatkan jiwanya sendiri.

Tuesday, February 17, 2026

Buku Pintar Raja-Raja Jawa Dari Kalingga Hingga Kasultanan Yogyakarta

Oleh : Krisna Bayu Adji

Penerbit : Araska, 2012

Tebal : 212 halaman

Buku Pintar Raja-Raja Jawa: Dari Kalingga hingga Kasultanan Yogyakarta karya Krisna Bayu Adji merupakan karya yang merangkum perjalanan panjang sejarah kekuasaan di Pulau Jawa melalui figur-figur rajanya. Buku ini menyajikan profil para penguasa dari masa kerajaan-kerajaan awal bercorak Hindu-Buddha hingga era kerajaan Islam, dengan gaya penyampaian yang ringkas namun tetap kaya informasi. Melalui pendekatan kronologis, pembaca diajak memahami dinamika politik, budaya, dan sosial yang membentuk peradaban Jawa selama berabad-abad.

Buku ini membuka pembahasan dengan Kerajaan Kalingga, salah satu kerajaan awal di Jawa yang dikenal melalui sosok Ratu Shima. Dari sini, Krisna Bayu Adji menelusuri perkembangan kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Setiap raja tidak hanya dipaparkan sebagai pemegang kekuasaan, tetapi juga sebagai tokoh yang memengaruhi arah sejarah melalui kebijakan politik, ekspansi wilayah, pembangunan budaya, hingga sistem keagamaan yang dianut.

Pada bagian yang membahas Majapahit, buku ini menyoroti tokoh-tokoh penting seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada, serta konsep penyatuan Nusantara yang sering dikaitkan dengan Sumpah Palapa. Krisna Bayu Adji menekankan bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kecanggihan administrasi dan jaringan perdagangan yang luas. Pembaca dapat melihat bagaimana kepemimpinan pada masa itu berperan besar dalam membentuk identitas politik Jawa.

Peralihan menuju masa Islam menjadi bab penting berikutnya. Buku ini menguraikan berdirinya Kesultanan Demak, Pajang, dan Mataram Islam sebagai kelanjutan dari tradisi kekuasaan Jawa yang mengalami transformasi nilai dan sistem pemerintahan. Raja-raja seperti Sultan Agung digambarkan sebagai figur yang mampu memadukan tradisi Jawa dengan ajaran Islam, sekaligus memperkuat struktur kerajaan dan identitas budaya.

Pada bagian akhir, pembahasan berlanjut hingga terbentuknya Kasultanan Yogyakarta. Buku ini menjelaskan latar belakang lahirnya kerajaan tersebut sebagai hasil dinamika politik internal Mataram Islam dan intervensi kolonial Belanda. Dengan demikian, pembaca dapat memahami kesinambungan sejarah Jawa dari kerajaan-kerajaan kuno hingga sistem kesultanan yang masih bertahan sebagai bagian dari struktur budaya dan pemerintahan modern.

Secara keseluruhan, Buku Pintar Raja-Raja Jawa menyajikan gambaran menyeluruh tentang evolusi kepemimpinan di Jawa. Buku ini tidak hanya mencatat silsilah dan periode pemerintahan, tetapi juga menunjukkan bagaimana para raja menjadi aktor utama dalam membentuk arah sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Jawa. Dengan bahasa yang relatif mudah dipahami, karya Krisna Bayu Adji ini menjadi referensi praktis bagi pembaca yang ingin memahami perjalanan panjang kekuasaan di Pulau Jawa dari masa klasik hingga era kesultanan.

Wednesday, February 11, 2026

Kakawin Nagarakertagama

Oleh : Mpu Prapanca

Penerbit : Narasi, 2018

Tebal : 306 halaman

Kakawin Nagarakertagama merupakan salah satu karya sastra klasik terpenting dalam sejarah Nusantara. Ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (1287 Saka), kakawin ini menjadi sumber utama untuk memahami kejayaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Narasi pada tahun 2018 menghadirkan kembali naskah kuno ini dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, tanpa menghilangkan kekayaan makna historis dan sastranya.

Secara keseluruhan, Nagarakertagama berbentuk puisi kakawin berbahasa Jawa Kuno yang terdiri dari pupuh-pupuh dengan metrum India. Namun di balik bentuk sastranya yang indah, karya ini sesungguhnya merupakan dokumen politik dan sejarah yang sangat penting. Mpu Prapanca, yang pernah menjadi pejabat keagamaan Buddha di lingkungan istana, menulis kakawin ini sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Hayam Wuruk dan sebagai catatan tentang tata pemerintahan, wilayah kekuasaan, kehidupan keagamaan, serta struktur sosial Majapahit.

Salah satu bagian paling terkenal dari kakawin ini adalah daftar wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi berbagai daerah di Nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga sebagian wilayah Semenanjung Melayu. Penyebutan daerah-daerah ini sering dipahami sebagai gambaran luasnya pengaruh Majapahit pada abad ke-14. Melalui uraian tersebut, terlihat bahwa Majapahit bukan hanya kerajaan agraris di pedalaman Jawa, melainkan kekuatan maritim yang memiliki jaringan politik dan ekonomi luas di kawasan Asia Tenggara.

Selain memaparkan wilayah kekuasaan, Nagarakertagama juga menggambarkan perjalanan keliling (royal tour) Hayam Wuruk ke berbagai daerah di Jawa Timur. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan simbol konsolidasi kekuasaan dan hubungan harmonis antara pusat kerajaan dengan daerah bawahan. Dalam deskripsi tersebut, Mpu Prapanca melukiskan kemakmuran desa-desa, keindahan alam, serta keteraturan tata ruang dan bangunan suci.

Aspek religius juga menjadi bagian penting dalam kakawin ini. Mpu Prapanca menggambarkan kehidupan spiritual yang harmonis antara ajaran Siwa dan Buddha, mencerminkan sinkretisme keagamaan yang menjadi ciri khas Majapahit. Penghormatan terhadap leluhur raja, pendirian candi-candi sebagai tempat pendharmaan, serta ritual keagamaan istana menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kekuasaan politik dan legitimasi spiritual pada masa itu.

Edisi terjemahan Narasi (2018) memberikan konteks historis yang membantu pembaca modern memahami istilah, struktur sosial, dan latar budaya yang terkandung dalam teks asli. Melalui penjelasan tambahan, pembaca dapat melihat bahwa Nagarakertagama bukan hanya karya puisi, tetapi juga arsip kebudayaan yang mencerminkan visi kebesaran Majapahit sebagai pusat peradaban Nusantara.

Secara keseluruhan, Kakawin Nagarakertagama adalah potret tentang masa keemasan Majapahit yang ditulis dari dalam lingkaran istana. Ia memadukan puisi, politik, sejarah, dan spiritualitas dalam satu karya monumental. Hingga kini, kakawin ini tetap menjadi referensi utama dalam memahami identitas sejarah Indonesia, terutama dalam narasi tentang persatuan wilayah dan kejayaan maritim Nusantara pada abad ke-14.

Wednesday, February 4, 2026

Suma Oriental


Oleh : Tome Pires
Penerbit : IRCiSoD, 2025
Tebal : 378 halaman

Buku Suma Oriental karya Tomé Pires merupakan salah satu sumber paling penting dalam memahami kondisi Asia Tenggara dan Asia Timur pada awal abad ke-16. Ditulis sekitar tahun 1512–1515, karya ini lahir dari pengalaman langsung Tomé Pires sebagai apoteker dan utusan Portugis yang tinggal cukup lama di Malaka setelah wilayah tersebut dikuasai Portugis. Melalui buku ini, Pires menyajikan gambaran detail tentang dunia Timur sebelum sepenuhnya berada di bawah dominasi kolonial Eropa, menjadikannya dokumen sejarah yang sangat berharga.

Isi Suma Oriental memotret jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar dari Laut Merah hingga Tiongkok. Tomé Pires menggambarkan Malaka sebagai pusat perdagangan internasional yang menjadi simpul pertemuan pedagang dari Arab, Persia, India, Nusantara, dan Tiongkok. Dalam catatannya, Malaka bukan hanya pelabuhan dagang, tetapi juga ruang pertemuan budaya, bahasa, dan sistem ekonomi yang kompleks. Pires menekankan bahwa kekuatan wilayah-wilayah Timur terletak pada penguasaan jalur laut dan pelabuhan strategis.

Bagian penting buku ini membahas Nusantara secara rinci, termasuk Sumatra, Jawa, Maluku, Kalimantan, dan kawasan sekitarnya. Tomé Pires mencatat keberadaan kerajaan-kerajaan maritim seperti Samudra Pasai, Aceh, Majapahit, dan berbagai bandar dagang di pesisir Jawa. Ia menggambarkan Jawa sebagai pulau yang makmur dengan aktivitas perdagangan yang ramai serta struktur politik yang terorganisasi. Catatan ini menjadi salah satu sumber awal Eropa tentang kondisi sosial, ekonomi, dan politik kepulauan Indonesia sebelum era kolonial berkembang pesat.

Selain perdagangan dan politik, Suma Oriental juga memuat pengamatan tentang adat istiadat, agama, dan kehidupan masyarakat setempat. Pires menulis tentang penyebaran Islam di kawasan pesisir, peran para pedagang Muslim dalam jaringan niaga internasional, serta hubungan antara penguasa lokal dan komunitas dagang. Meski ditulis dari sudut pandang Eropa, pengamatannya menunjukkan kekaguman terhadap keteraturan sistem dagang Timur dan kecanggihan pelayaran masyarakat Asia.

Buku ini juga mengungkap ambisi dan strategi Portugis dalam memperluas pengaruhnya di Timur. Di balik deskripsi geografis dan etnografis, Suma Oriental mencerminkan kepentingan ekonomi dan politik Portugis, terutama dalam menguasai perdagangan rempah-rempah. Catatan tentang Maluku sebagai sumber utama cengkeh dan pala menjadi dasar bagi ekspansi Portugis lebih jauh ke wilayah Indonesia Timur.

Secara keseluruhan, Suma Oriental bukan sekadar laporan perjalanan, melainkan ensiklopedia awal tentang dunia Timur yang ditulis berdasarkan pengalaman langsung. Karya ini membantu sejarawan memahami dinamika Asia Tenggara sebelum kolonialisme Eropa mencapai puncaknya. Melalui buku ini, Tomé Pires secara tidak langsung menegaskan bahwa jauh sebelum kedatangan bangsa Barat, Nusantara telah menjadi bagian penting dari peradaban maritim dan perdagangan global.

Wednesday, January 28, 2026

Majapahit Peradaban Maritim

Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia

Oleh :  Irawan Djoko Nugroho

Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010

Tebal : 422 halaman

Buku Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia karya Irawan Djoko Nugroho menghadirkan perspektif segar tentang Kerajaan Majapahit yang selama ini lebih sering dipahami sebagai kekuatan agraris dan politik daratan. Melalui pendekatan sejarah maritim, buku ini menegaskan bahwa kejayaan Majapahit justru bertumpu pada kemampuannya menguasai jalur laut, pelabuhan, dan jaringan perdagangan internasional yang membentang luas di kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.

Isi buku ini menguraikan bahwa Majapahit tidak sekadar menguasai wilayah secara teritorial, tetapi membangun sistem kendali atas pelabuhan-pelabuhan strategis Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan tersebut berfungsi sebagai simpul ekonomi, logistik, dan diplomasi yang menghubungkan Majapahit dengan pusat-pusat perdagangan dunia seperti Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Afrika Timur. Dalam pandangan penulis, penguasaan pelabuhan inilah yang menjadikan Majapahit mampu mengatur arus komoditas, pajak, dan pengaruh politik di kawasan maritim Asia.

Irawan Djoko Nugroho juga menjelaskan bagaimana Majapahit membangun kekuatan laut sebagai fondasi utama peradaban maritimnya. Armada laut tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai sarana pengamanan jalur niaga dan penegasan kedaulatan. Buku ini menggambarkan laut bukan sebagai pemisah antarpulau, melainkan sebagai ruang pemersatu Nusantara, tempat berlangsungnya interaksi ekonomi dan budaya yang intens.

Aspek budaya maritim menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Majapahit digambarkan sebagai peradaban kosmopolitan yang terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas lokal. Pertemuan antara pedagang, pelaut, dan utusan dari berbagai bangsa melahirkan pertukaran gagasan, teknologi pelayaran, seni, dan sistem administrasi. Dalam konteks ini, laut menjadi medium utama penyebaran budaya dan pengetahuan, sekaligus sarana integrasi antarwilayah Nusantara.

Buku ini juga menantang narasi sejarah yang terlalu menitikberatkan pada konsep penaklukan darat. Menurut penulis, kekuasaan Majapahit lebih bersifat hegemonik-maritim, di mana kendali ekonomi dan pelabuhan lebih menentukan daripada pendudukan wilayah secara langsung. Melalui sistem aliansi, pengaruh dagang, dan pengawasan jalur laut, Majapahit mampu menciptakan stabilitas regional yang mendukung kejayaan ekonominya dalam jangka panjang.

Pada bagian akhir, Majapahit Peradaban Maritim mengajak pembaca untuk meninjau ulang identitas Indonesia sebagai bangsa bahari. Irawan Djoko Nugroho menegaskan bahwa kejayaan Majapahit memberikan pelajaran strategis bagi Indonesia modern tentang pentingnya laut, pelabuhan, dan konektivitas maritim dalam membangun kedaulatan dan kemakmuran nasional. Buku ini bukan hanya kajian sejarah, tetapi juga refleksi tentang masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Wednesday, January 21, 2026

Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra

Oleh : Hasan Muarif Ambary

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997

Tebal : 175 halaman


Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengungkap peran penting Banten sebagai salah satu kota pelabuhan utama Nusantara yang terhubung langsung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Banten sebagai pusat aktivitas ekonomi, politik, dan budaya yang menjembatani dunia Timur dan Barat sejak masa pra-kolonial hingga awal kedatangan bangsa Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa letak geografis Banten yang strategis di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya pelabuhan transit yang vital bagi kapal-kapal dagang dari Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Komoditas utama seperti lada, hasil bumi, dan produk kerajinan menjadi daya tarik utama yang mengundang pedagang dari berbagai wilayah untuk singgah dan berdagang. Buku ini menunjukkan bahwa kemakmuran Banten tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya mengelola perdagangan laut dan menjaga stabilitas jalur pelayaran.

Buku ini juga mengulas dinamika politik Kesultanan Banten sebagai kekuatan maritim yang mandiri dan berdaulat. Penguasaan atas pelabuhan dan jaringan dagang memberikan Kesultanan Banten posisi tawar yang kuat dalam hubungan internasional. Digambarkan bagaimana Banten mampu menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan berbagai kekuatan asing, sekaligus menghadapi tekanan dan persaingan dari bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda, yang berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Aspek kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Banten digambarkan sebagai kota kosmopolitan tempat bertemunya berbagai etnis, agama, dan tradisi. Interaksi antara pedagang lokal, Arab, Tiongkok, India, dan Eropa melahirkan kehidupan sosial yang majemuk. Proses ini turut mempercepat penyebaran Islam di kawasan Banten, yang kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan dakwah Islam di Jawa Barat.

Dalam buku ini juga menyoroti peninggalan arkeologis Banten sebagai bukti kejayaan kota pelabuhan ini. Masjid, benteng, makam, dan struktur kota lama menjadi saksi bisu aktivitas maritim dan perdagangan yang pernah berlangsung. Melalui analisis terhadap tinggalan-tinggalan tersebut, buku ini memperkuat pemahaman bahwa Banten merupakan bagian integral dari Jalur Sutra Maritim dan memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia.

Wednesday, January 14, 2026

Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra

Oleh : Supratikno Rahardjo, dkk

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1996

Tebal : 67 halaman


Buku Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra mengulas peran penting Sunda Kelapa sebagai salah satu bandar maritim strategis di Nusantara yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Sunda Kelapa bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam arus perdagangan global yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa sejak awal masehi, kawasan Sunda Kelapa telah berkembang sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir barat laut Jawa menjadikan Sunda Kelapa titik persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas niaga di pelabuhan ini melibatkan komoditas penting seperti lada, hasil hutan, dan produk pertanian yang menjadi daya tarik utama pedagang asing. Dengan demikian, Sunda Kelapa berperan besar dalam menghubungkan hinterland Jawa Barat dengan pasar internasional.

Dalam buku ini, Sunda Kelapa juga digambarkan sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Interaksi antara pedagang lokal dan asing melahirkan dinamika sosial yang kosmopolitan. Pengaruh budaya Tiongkok, India, Arab, dan kemudian Eropa tercermin dalam catatan sejarah, temuan arkeologis, serta tradisi lisan yang berkembang di kawasan pelabuhan. Buku ini juga menekankan bahwa proses pertukaran ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga membawa dampak pada perkembangan budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Aspek politik turut menjadi perhatian penting dalam buku ini. Sunda Kelapa diposisikan sebagai aset strategis yang menentukan kekuatan Kerajaan Sunda. Penguasaan atas pelabuhan berarti kontrol terhadap jalur perdagangan dan sumber pendapatan kerajaan. Buku ini menguraikan bagaimana persaingan antar kekuatan regional dan global—termasuk masuknya Portugis pada abad ke-16—mengubah lanskap politik dan ekonomi Sunda Kelapa. Peristiwa jatuhnya Sunda Kelapa dan perubahan namanya menjadi Jayakarta menandai berakhirnya peran pelabuhan ini di bawah Kerajaan Sunda, sekaligus membuka babak baru sejarah kawasan tersebut.

Dalam buku ini juga menekankan pentingnya melihat Sunda Kelapa dalam konteks Jalur Sutra Maritim yang lebih luas. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan bandar-bandar lain di Nusantara yang saling terhubung. Dengan perspektif ini, buku tersebut memperkuat pemahaman bahwa Nusantara sejak lama telah terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia, jauh sebelum era kolonialisme modern.

Featured Post

Life of Pi

Oleh : Yann Martel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2013 Tebal : 446 halaman Novel Life of Pi adalah kisah tentang bertahan hidup yang me...

Related Posts