Oleh : Saini K.M
Penerbit : Balai Pustaka, 2001
Tebal : 102 halaman
Ada tokoh dalam sejarah Nusantara yang hidupnya seperti sebuah legenda. Ia bukan lahir sebagai raja. Bukan pula berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hak atas takhta. Namun ia mampu naik dari kehidupan yang sangat rendah hingga menjadi penguasa sebuah kerajaan. Namanya Ken Arok.
Kisah Ken Arok selama berabad-abad telah menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Jawa. Ia adalah sosok yang sekaligus dipandang sebagai pendiri sebuah dinasti besar, tetapi juga dikenal melalui kisah pembunuhan, perebutan kekuasaan, ambisi, dan kutukan.
Di tangan Saini K.M., kisah tersebut kemudian diolah menjadi sebuah drama sejarah berjudul Ken Arok, Sebuah Sandiwara dalam 14 Babak.
Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 2001, dengan ketebalan 102 halaman.
Berbeda dengan buku sejarah yang berusaha menyusun fakta secara kronologis, karya Saini K.M. membawa kisah Ken Arok ke dalam bentuk sandiwara. Artinya, sejarah tidak hanya diceritakan. Ia dihidupkan melalui dialog, konflik, tokoh, dan panggung. Dan melalui panggung itulah kita diajak melihat pertanyaan yang lebih besar: Apakah seseorang menjadi penguasa karena takdir, atau karena ambisinya sendiri?
Kisah Ken Arok menarik karena perjalanan hidupnya merupakan perjalanan dari bawah ke atas. Ia bukan pewaris kerajaan. Ia tidak dilahirkan sebagai calon raja. Dalam tradisi cerita Pararaton, masa mudanya bahkan digambarkan penuh dengan kehidupan yang keras dan penuh persoalan. Ia adalah sosok yang berada di luar tatanan. Namun justru dari luar tatanan itulah ia kemudian masuk ke dalam pusat kekuasaan. Ken Arok menjadi contoh bahwa kekuasaan tidak selalu diwariskan. Kadang-kadang kekuasaan direbut oleh mereka yang paling berani mengambil kesempatan. Dan ketika kesempatan itu datang, Ken Arok tidak menyia-nyiakannya.
Salah satu pusat konflik cerita adalah Tumapel. Pada masa itu, Tumapel berada di bawah kekuasaan Tunggul Ametung, seorang akuwu. Ken Arok kemudian masuk ke lingkungan Tunggul Ametung. Dari sinilah jalan hidupnya berubah. Ia bertemu dengan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam cerita. Ken Arok melihat Ken Dedes bukan sekadar sebagai seorang perempuan. Dalam kisah tradisional Jawa, Ken Dedes dikaitkan dengan pertanda tentang masa depan dan lahirnya garis keturunan penguasa. Maka perempuan ini kemudian menjadi bagian dari persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar cinta. Ia menjadi bagian dari politik kekuasaan.
Ken Dedes merupakan salah satu tokoh paling penting dalam legenda Ken Arok. Dalam kisah tradisional, terdapat ramalan mengenai dirinya sebagai wanita yang memiliki “rahasia” atau tanda yang berkaitan dengan lahirnya raja-raja besar. Ketika Ken Arok mengetahui hal tersebut, pandangannya terhadap masa depan berubah. Ia mulai melihat kemungkinan bahwa dirinya bukan sekadar seorang rakyat biasa. Ada kemungkinan bahwa ia dapat menjadi bagian dari garis penguasa. Namun untuk menuju ke sana, ada satu persoalan, Tunggul Ametung berdiri di antara dirinya dan Ken Dedes. Dan di sinilah cinta mulai bercampur dengan ambisi.
Tidak ada cerita Ken Arok yang lebih terkenal daripada keris Mpu Gandring. Ken Arok memesan sebuah keris kepada Mpu Gandring. Namun ia tidak mau menunggu sampai keris tersebut selesai sepenuhnya. Dalam kisah tradisional, Ken Arok kemudian menggunakan keris itu untuk membunuh Mpu Gandring. Sebelum meninggal, Mpu Gandring mengucapkan kutukan. Keris tersebut kelak akan memakan korban dari keturunan Ken Arok sendiri. Kisah keris Mpu Gandring menjadi simbol penting dalam cerita. Sebuah benda yang dibuat untuk memperoleh kekuasaan justru menjadi benda yang terus membawa kematian. Seolah-olah sejarah ingin mengatakan, kekuasaan yang dibangun melalui darah akan meninggalkan jejak darah.
Ken Arok kemudian menggunakan keris tersebut untuk membunuh Tunggul Ametung. Namun ia menyusun cerita seolah-olah pembunuhan tersebut dilakukan oleh orang lain. Dengan demikian, Ken Arok dapat menggantikan posisi Tunggul Ametung sebagai penguasa Tumapel sekaligus menikahi Ken Dedes. Di sinilah kita melihat sisi gelap perjalanan Ken Arok. Ia bukan hanya seorang pemuda yang ingin mengubah nasib. Ia adalah seseorang yang bersedia menggunakan tipu daya dan kekerasan untuk mencapai tujuan. Dan pertanyaan moral mulai muncul: Jika seseorang mendapatkan kekuasaan dengan cara yang salah, apakah kekuasaan itu sendiri dapat dianggap sah?
Ken Arok tidak berhenti setelah mendapatkan posisi di Tumapel. Ia memiliki ambisi yang jauh lebih besar. Ia ingin Tumapel menjadi kekuatan yang mandiri. Ia ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kadiri. Pada titik ini, persoalan pribadi berubah menjadi persoalan politik. Ken Arok tidak lagi sekadar mengejar perempuan. Ia mengejar kekuasaan. Dan kekuasaan memiliki sifat yang berbeda dengan ambisi biasa. Semakin banyak seseorang memilikinya, sering kali semakin besar pula keinginannya.
Dalam latar sejarah tradisional, Tumapel berada dalam pengaruh kerajaan Kadiri. Penguasa Kadiri pada masa itu adalah Kertajaya. Hubungan antara penguasa Kadiri dan para pemuka agama menjadi salah satu sumber konflik. Ken Arok kemudian memanfaatkan ketegangan tersebut. Ia tampil sebagai pelindung kaum brahmana dan menggunakan konflik itu untuk membangun legitimasi politiknya. Dengan cara tersebut, Ken Arok tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata. Ia juga menggunakan politik, simbol, dan legitimasi. Ini merupakan salah satu aspek menarik dari kisah Ken Arok. Untuk menjadi penguasa, seseorang tidak cukup hanya kuat. Ia juga harus mampu membuat orang lain percaya bahwa dirinya layak berkuasa.
Konflik akhirnya berkembang menjadi peperangan. Tumapel berhadapan dengan Kadiri. Dalam tradisi sejarah Jawa, konflik tersebut mencapai puncaknya dalam Perang Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil mengalahkan kekuatan Kadiri. Kekuasaan Kertajaya berakhir. Dan Tumapel muncul sebagai kekuatan politik baru. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Jawa Timur. Sebuah kekuasaan lama runtuh. Sebuah kekuasaan baru muncul. Dan di pusatnya berdiri Ken Arok.
Setelah kemenangan tersebut, Ken Arok menjadi penguasa. Ia kemudian menggunakan gelar Rajasa. Di sinilah perjalanan Ken Arok mencapai puncaknya. Anak yang dahulu berada di luar struktur kekuasaan akhirnya menjadi raja. Tetapi justru ketika ia telah mencapai puncak, persoalan lama mulai mengejarnya. Kekuasaan yang diperoleh dengan darah ternyata tidak pernah benar-benar bebas dari darah.
Ken Arok dapat memenangkan perang. Ia dapat merebut kekuasaan. Ia dapat menjadi raja. Tetapi ia tidak dapat menghapus masa lalu. Kematian Mpu Gandring. Kematian Tunggul Ametung. Tipu daya. Ambisi. Semua menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Di sinilah kisah Ken Arok menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang raja. Ia menjadi cerita tentang konsekuensi. Apa yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu dapat menentukan bagaimana kita kehilangan sesuatu tersebut.
Kutukan Mpu Gandring menjadi semacam benang merah tragedi dalam kisah Ken Arok. Keris tersebut tidak berhenti setelah membunuh pembuatnya. Ia terus berpindah tangan. Dan dalam tradisi cerita, keris itu menjadi bagian dari rangkaian kematian yang akhirnya juga menyeret Ken Arok. Apakah benar sebuah keris memiliki kutukan? Atau sebenarnya kutukan tersebut merupakan cara manusia menjelaskan konsekuensi dari tindakan mereka sendiri?
Pertanyaan itu membuat cerita Ken Arok menarik untuk dibaca secara simbolis. Keris tersebut mungkin bukan hanya benda. Ia adalah simbol dari kekerasan yang diwariskan. Satu pembunuhan melahirkan pembunuhan berikutnya. Satu pengkhianatan melahirkan pengkhianatan berikutnya. Satu perebutan kekuasaan melahirkan perebutan kekuasaan berikutnya.
Hubungan Ken Arok dan Ken Dedes juga tidak sederhana. Apakah Ken Arok benar-benar mencintai Ken Dedes? Ataukah Ken Dedes merupakan bagian dari ambisinya?
Dalam kisah seperti ini, batas antara cinta dan kekuasaan menjadi kabur. Ken Dedes sendiri bukan sekadar perempuan yang diperebutkan dua laki-laki. Ia menjadi simbol dari sebuah garis keturunan politik. Dari Ken Dedes lahir keturunan yang kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Dengan demikian, perkawinan Ken Arok dan Ken Dedes memiliki konsekuensi politik yang jauh lebih besar daripada hubungan pribadi mereka.
Inilah salah satu kekuatan ketika kisah sejarah diubah menjadi sandiwara. Sejarah tidak lagi hanya berbicara tentang, tahun, tempat, perang, dan raja. Ia berbicara tentang manusia. Manusia yang memiliki rasa takut. Manusia yang memiliki ambisi. Manusia yang mencintai. Manusia yang iri. Manusia yang berkhianat. Manusia yang ingin hidup lebih baik.
Ken Arok menjadi menarik justru karena ia memiliki semua sisi tersebut. Ia bukan malaikat. Ia juga bukan iblis. Ia adalah manusia yang memiliki ambisi sangat besar.
Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Jika dilihat dari cara ia memperoleh kekuasaan, Ken Arok dapat dianggap sebagai sosok yang kejam. Ia terlibat dalam pembunuhan dan intrik. Namun jika dilihat dari sejarah politik, ia juga merupakan pendiri sebuah dinasti besar yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di Jawa. Karena itu, Ken Arok adalah karakter abu-abu. Dan justru karakter seperti inilah yang menarik dalam sastra.
Tokoh yang sepenuhnya baik mudah dipahami. Tokoh yang sepenuhnya jahat juga mudah dipahami. Tetapi manusia yang melakukan kebaikan sekaligus kejahatan jauh lebih dekat dengan realitas kehidupan.
Kisah Ken Arok juga memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya membutuhkan kemenangan. Ia membutuhkan legitimasi. Ken Arok harus membuat kekuasaannya dapat diterima. Ia membutuhkan dukungan kelompok agama. Ia membutuhkan kekuatan militer. Ia membutuhkan simbol kerajaan. Dan ia membutuhkan narasi tentang siapa dirinya.
Ini adalah pola yang berulang dalam sejarah. Setiap penguasa tidak hanya memerlukan tentara. Ia juga membutuhkan cerita. Cerita bahwa dirinya sah. Cerita bahwa dirinya dipilih. Cerita bahwa pemerintahannya diperlukan. Cerita bahwa masa lalu mendukung dirinya. Dalam konteks ini, kisah Ken Arok merupakan studi menarik tentang bagaimana kekuasaan dibangun.
Ken Arok kemudian menjadi tokoh awal dari dinasti yang dalam sejarah dikenal sebagai Rajasa. Kerajaan yang bermula dari Tumapel kemudian berkembang menjadi kekuatan yang lebih besar. Kelak, dari garis keturunan ini lahir tokoh-tokoh besar seperti, Anusapati, Tohjaya, Wisnuwardhana, dan Kertanegara.
Dan beberapa generasi kemudian, garis keturunan politik tersebut berhubungan dengan lahirnya Majapahit. Dengan demikian, cerita Ken Arok bukan hanya cerita tentang satu orang. Ia adalah salah satu titik awal dari rangkaian sejarah politik Jawa yang panjang.





