Saturday, January 9, 2016

Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno

Topographia Sacra


Oleh : Zainollah Ahmad, S.Pd

Penerbit : Araska
Tebal : 284 halaman


Meski aku lahir dari Jember, tapi aku baru sadar bahwasanya pengetahuanku mengenai sejarah kota kampung halamanku sangatlah minim. Setelah melihat di satu satu pojok rak toko buku, mataku langsung terpana oleh buku ini, Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno.

Saat aku baca ternyata banyak sejarah kota Jember yang masih perlu digali. Diawali dengan adanya buku ini semoga kedepannya akan ada penelurusan sejarah kota Jember yang lebih dalam lagi sehingga tidak akan lekang oleh jaman.

10.000 SM
Terjadi penyebaran kelompok suku bangsa Melayu Astronesia dimana koloninya melewati sepanjang sungai Kalibaru dan bermigrasi di sepanjang pantai selatan Jawa termasuk di pesisir pantai Puger.

2500 - 1500 SM
Masa Megalitik Tua di Jember dengan diketemukan batu kenong di daerah Kamal, Klanceng Kecamatan Arjasa dan di desa Plalangan Kecamatan Kalisat.

1000 SM
Masa Megalitik Muda di Jember dengan diketemukan pembuatan batu besar seperti menhir, dolmen, undak batu dan limas, salah satu area ditemukannya adalah di dusun Kreongan Desa Jember Lor. Total ada 20 situs prasejarah yang dapat dilihat di halaman 63.

400 - 600 M
Ditemukan patung Budha Amarawati yang bergaya India Selatan di Blater kecamatan Tempurejo.

650 - 750 M
Ditemukan prasasti Batu Gong di dusun Kaliputih Rambipuji dengan torehan 5 huruf Pallawa yang berbunyi Parvateswara (Dewa Gunung).

1088 M
Ditemukan prasasti Congapan di Karang Bayat, Sumberbaru yaitu di kawasan lereng Gunung Argopuro dengan terdapat tulisan Sarwa Hana (serba bisa).

1124
Terdapat pemisahan secara khusus antara Lamajang dan Tigang Juru (Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi) berdasarkan prasasti Ranu Kumbolo pada era Kerajaan Kadiri di masa Nararya Kirana.

1294
Wilayah Tigang Juru yaitu Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi termasuk ditetapkan wilayah otonomi bersama Lumajang yang dipimpin oleh arya Wiraraja berdasarkan prasari Gunung Buutak tepatnya pada tanggal 11 September 1294.

1825 - 1830
Akibat perang dan konflik di daerah kekuasaan Mataram, puncaknya pada Perang Jawa (Java's Oorlog) atau Perang Diponegoro terjadi eksodus dari daerah Mataraman (Tulungagung, Ponorogo, Trenggalek, Blitar, Kediri dan sebahian Jawa Tengah) pindah ke Jember bagian selatan.

1845
Penduduk Jember berjumlah 9.237 orang.

1859
George Birnie pada tanggal 21 Oktober 1859 merintis usaha perkebunan tembakau yang kemudian merambah ke tanaman kopi, kakao dan karet berdasarkan brosur NV.LMOD 1909) dengan nama perkebunan swasta yaitu Besoeki Tabac Maatschappij dan Djelboek Tabac Maatschappij.

1860
Dibuka lahan perkebunan yang membutuhkan sumber tenaga kerja murah sehingga didatangkan dari pulau Madura yang gersang namun penduduknya mempunyai etos kerja yang tinggi yang kemudian mendiami Jember bagian utara.

1867
Terjadi lonjakan jumlah penduduk Jember yaitu menjadi 75.780 orang.

1880
Jumlah penduduk Jember meningkat lagi menjadi 129.798 orang.

1929
Lahir Staatblad nomor 322 yang dikeluarkan tanggal 1 Januari 1929 lalu kemudian dijadikan sebagai hari lahir kota Jember.

1945 - 1949
Perlawanan rakyat

-

Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno: Membaca Masa Lalu untuk Memahami Identitas Daerah

Buku Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno karya Zainollah Ahmad merupakan upaya serius untuk mengangkat kembali sejarah lokal Jember yang selama ini kerap tenggelam di balik narasi besar sejarah Jawa dan Nusantara. Buku ini mengajak pembaca menyusuri jejak-jejak peradaban awal di wilayah Jember melalui pendekatan historis, arkeologis, dan tradisi lisan masyarakat setempat. Zainollah Ahmad menempatkan Jember bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan sebagai ruang hidup yang sejak masa lampau telah dilalui berbagai dinamika budaya, kekuasaan, dan interaksi antarmasyarakat.

Isi buku ini mengulas asal-usul wilayah Jember kuno dengan menelusuri temuan situs-situs purbakala, seperti peninggalan megalitikum, artefak batu, serta struktur pemujaan yang mengindikasikan keberadaan masyarakat awal dengan sistem kepercayaan dan pola kehidupan yang mapan. Penulis mengaitkan temuan-temuan tersebut dengan perkembangan masyarakat agraris yang memanfaatkan kesuburan tanah Jember, serta posisi geografisnya yang strategis sebagai jalur perlintasan antarwilayah di Jawa Timur bagian timur. Dari sini terlihat bahwa Jember telah menjadi ruang peradaban jauh sebelum terbentuknya struktur pemerintahan modern.

Zainollah Ahmad juga membahas pengaruh kerajaan-kerajaan besar Jawa terhadap wilayah Jember, termasuk masa Hindu-Buddha dan keterkaitannya dengan kekuasaan seperti Blambangan dan Majapahit. Melalui kajian prasasti, toponimi desa, serta cerita rakyat, buku ini menunjukkan bagaimana kekuasaan politik dan budaya dari pusat kerajaan memengaruhi kehidupan masyarakat lokal, sekaligus bagaimana masyarakat Jember mempertahankan identitas dan kearifan lokalnya. Tradisi, nama tempat, dan legenda yang hidup hingga kini dipahami sebagai jejak historis yang menyimpan memori kolektif masa lalu.

Selain itu, buku ini menyoroti proses perubahan sosial yang terjadi seiring masuknya pengaruh Islam, kolonialisme, dan pembentukan Jember sebagai wilayah administratif modern. Penulis menggambarkan bagaimana lapisan-lapisan sejarah tersebut saling bertumpuk, membentuk karakter masyarakat Jember yang plural, terbuka, namun tetap berakar pada tradisi. Sejarah tidak diposisikan sebagai cerita masa lampau semata, melainkan sebagai fondasi untuk memahami dinamika sosial dan budaya Jember masa kini.

Secara keseluruhan, Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno adalah buku yang memperkaya literasi sejarah lokal dan menegaskan pentingnya menggali sejarah daerah sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah nasional. Zainollah Ahmad mengajak pembaca untuk tidak melupakan jejak-jejak kecil yang membentuk identitas besar sebuah wilayah. Buku ini relevan bagi pemerhati sejarah, akademisi, pelajar, maupun masyarakat Jember yang ingin mengenal asal-usul dan akar budayanya secara lebih mendalam.



#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra

Oleh : Hasan Muarif Ambary Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997 Tebal : 175 halaman Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengun...

Related Posts