Saturday, October 12, 2019

Problem Solving and Decision Making for Improvement

Cara Cerdas dan Efektif dalam Memecahkan Masalah dan Mengambil Keputusan untuk Meningkatkan Kinerja Organisasi


Oleh : Berny Gomulya

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 168 halaman


Tahun 1950, Benjamin & Charles, peneliti RAND Corporation melakukan penelitian kru radar di Markas Pertahanan Udara Amerika Serikat yang menyatakan bahwa beberapa perwira secara konsisten membuat keputusan yang lebih baik daripada yang lain, meskipun sama-sama mendapatkan pelatihan yang sama.

Orang yang dapat membuat keputusan lebih baik memiliki proses yang lebih baik. Dan kesimpulan dari penelitian tersebut mengidentifikasi 4 hal, yaitu :

  1. analisis situasi, 
  2. analisis persoalan, 
  3. analisis keputusan,
  4. analisis persoalan potensial.

Karakter manusia dalam menghadapi masalah setidaknya dapat dibagi menjadi 5, yaitu tipe pemimpi, tipe cepat reaksi, tipe pengeluh, tipe pengkritik dan tipe pemecah masalah.

Hukum Keyakinan (The Law of Belief) mengatakan bahwa "Apa pun yang Anda percayai dan yakini sepenuhnya, itu akan menjadi kenyataan". Dan "You don not only believe what you see, you rather see what you already believe".

Tahun 2008, Bain & Company melakukan survey terhadap 760 eksekutif perusahaan menyimpulkan bahwa efektivitas keputusan dan hasil kinerja keuangan berhubungan lebih dari 95%.

Presiden Amerika ke-26, Theodore Roosevelt mengatakan bahwa "In any moment of decision, the best thing you can do is ther right thing, the next best thing is the wrong thing, and the worst thing you can do is nothing".

Beberapa kesalahan dalam mengambil keputusan, adalah :
  1. Terburu-buru menentukan pilihan
  2. Tidak lengkap dalam mendefinisikan tujuan keputusan
  3. Tidak efektif dalam memanfaatkan informasi
  4. Tidak mempertimbangkan konsekuensi keputusan
  5. Tidak menyadari adanya pilihan lain
  6. Tidak melibatkan pihak lain secara efektif
Survei yang dilakukan oleh Bain & Company pada tahun 2008 terhadap 760 eksekutif perusahaan menyimpulkan bahwa efektivitas keputusan dan hasil kinerja keuangan berhubungan lebih dari 95%. Namun sayangnya, banyak pemimpin takut dan ragu mengambil keputusan. 

“Most Meetings End Before Decisions Are Made. Managers spend 50% or more of their time in meetings, but Bain & Company research shows that two-thirds of meetings end before participants can make important decisions. Not surprisingly, 85% of executives are dissatisfied with the efficiency and effectiveness of their companies’ meetings,” demikian tulis Bain & Company dalam laporan risetnya.

Almarhum Bapak Michael D. Ruslim, mantan President Director dan CEO PT. Astra International Tbk, berujar kepada para pemimpin di lingkungan Astra Group, “Decision making is a crucial part of good business.” Pernyataan itu tak lepas dari karakter Bapak Michael yang sangat kuat: Decisive. 

Beliau kurang berkenan bila ada leader yang berkata, ”Tidak mengambil keputusan adalah juga sebuah keputusan.” “Sebagai leader, tugas kita adalah mengambil keputusan.” Begitu kira-kira kalimat Bapak Michael di beberapa kesempatan. Uncertainties, risks, dan consequences adalah tiga hal yang harus bisa di manage oleh para leader dalam setiap pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. “Kita jangan takut dengan bayang-bayang sendiri,” nasihat Bapak Michael.

Apapun level organisasi kita, dimanapun kita berada dalam organisasi, problem solving and decision making adalah kompetensi kritikal yang harus dimiliki. Level executive perusahaan akan berkecimpung dengan “strategic decisions,” level manager akan fokus pada “tactical decisions,” dan level staf lebih berkonsentrasi pada “daily operational decisions.”

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Friday, October 4, 2019

Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh

How An Economy Grows and Why It Crashes


Oleh : Peter D. Schiff & Andrew J. Schiff 

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 234 halaman

Pada awal abad ke-20, John Maynard Keyne mengembangkan ide untuk membuat perekonomian tumbuh. Keynes mengajukan pandangan dimana satu perangkat hukum ekonomi berperan pada tataran mikro (ranah individu dan keluarga) dan pada tataran makro (ranah bangsa dan pemerintahan).

Sehingga pada saat itu menghasilkan pertumbuhan kapasitas produksi dan standar hidup di dunia Barat, dengan pusatnya ada di freewheeling (kapitalisme liar) Amerika Serikat yang lebih mengutamakan hak individu dan peran pemerintah yang terbatas.

Pandangan Keynes adalah gagasan pemerintah yang mampu melunakkan volatilitas pasar bebas dengan melakukan ekspansi suplai uang dan menjalankan kebijakan defisit longgar saat keadaan sulit.

Tahun 1971, Presiden Richard Nixon menutup jendela loket yang memutuskan kaitan terakhir dollar dengan emas. Sistem ekonomi global menjadi sepenuhnya didasarkan pada uang yang tidak ternilai.

Dalam ekonomi modern, terdapat teori nilai tenaga kerja (the labor theory value), yang menyatakan bahwa laba diciptakan dengan membayar pekerja lebih kecil daripada nilai mereka yang sesungguhnya.

Para ekonom secara significan menurunkan posisi tabungan dalam rantai nilai ekonomi, karena bagi kaum Keynesian tabungan itu berbahaya bagi pertumbuhan karena dapat menghilangkan uang dari sirkulasi dan mengurangi belanja.

Sehingga orang akan diharapkan lebih banyak berbelanja daripada menabung. Saat ini bangsa Amerika telah berubah dari bangsa penabung menjadi bangsa peminjam, karena suku bunga yang rendah sehingga mendorong kredit dan menekan tabungan.

Dunia ekonomi saat ini berhasil melakukan propaganda cemooh terhadap deflasi dan relatif lebih menerima terhadap inflasi. Karena orang khawatir jika terjadi deflasi maka harga akan turun dan orang akan berhenti membeli, berhenti berbelanja, pekerja kehilangan pekerjaan dan pada akhirnya kembali pada kegelapan ekonomi.

Jika cadangan uang di Bank tipis, maka untuk mengkompensasi peningkatan resiko, Bank akan membebankan suku bunga lebih tinggi kepada kreditur dan menawarkan suku bunga lebih tinggi juga pada deposan untuk mendorong lebih banyak tabungan. Hal ini juga akan menyurutkan pinjaman dan menghambat pertumbuhan bisnis.

Tahun 1913 Federal Reserve berdiri dengan menerbitkan uang berdasarkan emas (bearer gold) berdasarkan permintaan, mengantikan uang kertas bank swasta yang memberikan jaminan serupa. The Fed menciptakan persedian uang elastis, yaitu dapat mengembangkan dan menciutkan jumlah uang yang beredar sesuai dengan kegiatan ekonomi dengan harapan harga stabil.

The Fed secara teori adalah bank Swasta yang menjadi perpanjangan tangan Departemen Keuangan, mematok suku bunga dasar sebagai landasan bagi seluruh struktur suku bunga yang menjadi acuan bagi dunia usaha.

Namun selama 100 tahun terakhir, dollar telah kehilangan lebih dari 95% nilainya.

Keputusan The Fed pada umumnya ditentukan oleh pertimbangan politik daripada pertimbangan ekonomi. Sehingga The Fed memberikan inflasi untuk memungkinkan pemerintah belanja lebih banyak dibandingkan jumlah setoran pajak yang dihimpun.

Belanja infrastruktur dapat menimbukan dampak besar bagi perekonomian, jika manfaat yang didapatkan lebih besar daripada ongkos yang keluar. Banyak politikus dan ekonom keliru memandang belanja infrastruktur bukan sebagai biaya jangka pendek yang menumbuhkan manfaat jangka panjang, tapi dianggap sebagai sarana seketika untuk menciptakan lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian.

Proyek ini jika dibawah kendali monopoli pemerintah hampir selalu membuahkan inefisiensi, korupsi, suap dan kebangkrutan. Kemudian pemerintah sekedar menaikkan pajak, sehingga dapat membuang sumber daya masyarakat dan standar hidup pun turun.

Para ekonom keliru mendefinisikan hubungan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok sebagai sistem yang saling menguntungkan, dimana Amerika Serikat mendapatkan produk yang murah dan kredit yang murah, sedangkan Tiongkok mendapatkan proyek manufaktur.

Amerika Serikat diuntungkan mendapatkan barang tanpa perlu memproduksinya dan bisa meminjam uang tanpa harus menabung, sedangkan Tiongkok harus bekerja tanpa mengkonsumsi apa yang telah mereka hasilkan.

Tentu saja hubungan seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya. Semakin lama anda makan gratis, semakin berat pula untuk menafkahi diri ketika makanan gratis tersebut tidak lagi tersedia.

Pada akhir tahun 1960, Amerika Serikat mengekspor jauh lebih banyak daripada impor atau surplus perdagangan. Namun menjelang tahun 1976 neraca dagang telah berubah, Amerika Serikat mengalami defisit dagang, yaitu mencapai USD 10 miliar - USD 50 miliar per tahun.

Tahun 1990, angka menyentuh batas USD 100 miliar.

Pada abad ke-21, perekonomian Tiongkok bangkit dengan ekonomi ekspor, sedangkan defisit perdagangan Amerika Serikat berkisar pada angka USD 600 miliar per tahun. Bahkan pada tahun 2006 mencapai USD 763 miliar.

Bank lebih menyukai pemberian kredit rumah dan perumahan, karena memiliki keamanan dasar dalam bentuk agunan (underlying), yaitu rumah itu sendiri. Jika debitur tidak dapat melunasi pinjamannya, maka bank dapat mengambil alih kepemilikan rumah yang kemudian dijual untuk melunasi hutang.

Namun Amerika Serikat mengalami kenikmatan dan kepedihan akibat gelembung perumahan yang membengkak dan kemudian runtuh. Mayoritas ekonom, pemerintah dan pakar finansial tidak bisa melihat datangnya bencana meskipun sebenarnya mereka sedang menatap tajam dalam jarak dekat.

Tanda akan hal tersebut sebenarnya terlihat dari valuasi, dimana harga rumah melambung tinggi dan benar-benar jauh dari keterjangkauan harga alias angka menjadi tidak masuk akal. Angka tersebut hanyalah kemakmuran semu untuk mendorong konsumen tetap membelanjakan uangnya.

Pada akhirnya kepemilikan rumah yang dulunya tiket menuju kekayaan mudah, menjadi sesuatu yang beresiko. Jika suku bunga naik, maka harga rumah akan menjadi tidak terjangkau.

Inflasi memungkinkan pemerintah membuang hutang secara rahasia, dengan mencetak uang, pemerintah secara nominal dapat melunasi hutang namun secara bersamaan menurunkan nilai mata uang. Kreditur mendapatkan bayaran, namun yang mereka dapatkan tidak bernilai banyak.

Inflasi juga menjadi sarana mentransfer kekayaan dari seseorang yang memiliki tabungan dalam mata uang tertentu ke orang lain yang memiliki tabungan dalam mata uang yang sama. Hal ini terjadi pada Prancis tahun 1790, Negara Konfederasi Amerika tahun 1860, Jerman tahun 1920, Hungaria tahun 1940, Argentina tahun 1970 dan Brasil tahun 1980, serta Zimbabwe tahun 2016.

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Wednesday, September 25, 2019

The Latte Factor

Why You Don’t Have to be Rich to Live Rich


Oleh : David Bach and John David Mann
Penerbit : Atria Books, 2019


Buku "The Latte Factor" yang ditulis oleh David Bach dan John David Mann adalah buku tentang bagaimana mengelola keuangan secara cerdas dan efektif dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Zoey Daniels yang merasa hidupnya tidak seimbang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan merasa tidak punya uang untuk mengejar impian dan kebahagiaannya.

Dalam buku ini, Zoey bertemu dengan seorang penasihat keuangan bernama Henry yang membantunya menyadari bahwa kebiasaan kecil yang sering diabaikan seperti membeli kopi atau makan siang di luar bisa berdampak besar pada keuangan jangka panjang. 

Konsep "The Latte Factor" sendiri adalah bahwa pengeluaran kecil yang sering dilakukan sehari-hari, seperti membeli kopi di kedai kopi, bisa menjadi pengeluaran besar yang memakan sebagian besar dari anggaran bulanan kita jika tidak dikelola dengan bijak.

Buku ini mengajarkan konsep dasar keuangan pribadi dan memberikan tips praktis tentang cara mengatur anggaran, mengurangi hutang, menabung, dan investasi dengan cerdas. Dalam buku ini juga diuraikan bagaimana mengambil langkah-langkah kecil dan konsisten dalam mengelola keuangan kita setiap hari dapat membawa perubahan besar dalam hidup kita.

"The Latte Factor" sangat cocok untuk dibaca bagi mereka yang ingin belajar tentang keuangan pribadi dan mencari inspirasi untuk mengelola uang mereka dengan lebih bijak. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan contoh nyata dan ilustrasi untuk memudahkan pembaca memahami konsep yang dijelaskan.


Latte factor it's not about your coffee. The latte factor is a metaphor. It could be anything you spend extra money on that you could happily do without. Cigarettes, a candy bar, fancy cocktails.

The latte factor isn't about being a penny-pincher or denying yourself. It's about getting clear on what matters. It's about the little daily extravagances and frivolities, whatever they may be - the five, ten, twenty dollars a day that you could just as easily redirect toward your own future.

The solution to your money problems isn't more money, it's new habits. It's not about depriving or punishing yourself. It's about shifting your everyday habits, just a little.

And with that little shift, changing your destiny.

Earning are like the tide, and your spending is like a boat.


Faktor latte ini bukan tentang kopi Anda. Faktor latte adalah metafora. Bisa jadi apa pun yang Anda habiskan dengan uang ekstra yang dapat Anda lakukan dengan senang hati tanpanya. Rokok, permen, koktail mewah.

Faktor latte bukan tentang menjadi penny-pincher atau menyangkal diri sendiri. Ini tentang memperjelas apa yang penting. Ini tentang pemborosan dan kesembronoan kecil setiap hari, apa pun itu - lima, sepuluh, dua puluh dolar sehari yang dapat Anda arahkan dengan mudah ke masa depan Anda sendiri.

Solusi untuk masalah uang Anda bukanlah lebih banyak uang, melainkan kebiasaan baru. Ini bukan tentang merampas atau menghukum diri sendiri. Ini tentang mengubah kebiasaan sehari-hari Anda, sedikit saja.

Dan dengan perubahan kecil itu, mengubah takdir Anda.

Penghasilan seperti air pasang, dan pengeluaran Anda seperti perahu.


#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Sunday, September 1, 2019

Cara Berpikir Suprarasional

Menyelesaikan Masalah dan Mendapatkan Rezeki dari Jalan yang Tak Terduga


Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra
Penerbit : Republika, 2019
Tebal : 170 halaman

Setidaknya manusia terbagi menjadi 4 cara berpikir, yaitu :
  • Natural : cara berpikir alamiah dengan mengikuti pola yang bersifat rutin
  • Supranatural : cara berpikir dengan melibatkan makhluk gaib saat terkena masalah
  • Rasional : cara berpikir dengan menggunakan inovasi dan nalar
  • Suprarasional : cara berpikir orang rasional dengan memilih bantuan dari Allah swt.

Berpikir suprarasional merupakan jembatan dunia gaib dengan dunia nyata. Konsep ini diterapkan sebagai SMS (Sistem Metode Seikhlasnya) yang dipraktekkan di KPM (Klinik Pendidikan MIPA), dimana siswa tidak dipatok biaya tertentu, namun siswa terserah meletakkan uang ke dalam keropak.

Cara ini mencerminkan kita menjadikan Allah sebagai majikan. Hal ini sejalan dengan surat Al-Ikhlas (112) : 2, yang berbunyi “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.

Dengan menjadikan Allah sebagai majikan, maka sebagai karyawan-Nya maka kita harus menjalankan perintah-Nya mulai dari sholat, puasa, zakat dan ibadah ritual lainnya, yaitu sholat tahajud, membaca al-quran, shalat berjamah di masjid, sholat dhuha, sedekah, jaga wudhu dan istighfar.

Sehingga sebagai karyawan-Nya maka jangan khawatir hidup di dunia maupun di akhirat, karena Allah akan mencukupkan rezeki kita, baik di dunia terlebih di akhirat sebagai tabungan kita nantinya.

Saat ini KPM mempunyai banyak cabang, diantaranya adalah Jabodetabek, Surabaya, Solo, Serang, Semarang, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Lumajang dan Makasar dengan seabrek prestasi juara Olimpiade Matematika IPA mulai dari tingkat Nasional hingga Internasional.

Jadi bisa disimpulkan bahwa cara berpikir suprarasional adalah dengan pendekatan matematika sederhana dan dengan pendekatan keimanan.

Salah satu catatan sejarah tindakan dan strategis suprarasional adalah saat Konstantinopel berhasil direbut oleh tentara Islam yaitu kekhalifahan Turki Usmani dengan pemimpin Khalifah Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 M dari penguasa Romawi. Hal ini didasarkan pada hadist nabi Muhammad saw yang mengatakan bahwa Romawi Timur akan kembali ke tangan umat Islam.

Layaknya hitam putih, siang malam, Tuhan pun menciptakan susah senang. Seperti yang disebutkan dalam surat Ash-Sharh (94) : 5-6 "Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan".

Jadi setelah kita mengalami kesulitan (kesusahan), maka akan datang kemudahan atau kesenangan. Untuk itu, jika kita ingin meraih kemudahan dan kesenangan maka seyogyanya kita merencanakan kesulitan.

Dan berdasarkan prinsip tersebut pula, jangan kita sebagai orang tua memanjakan anak. Pada umumnya orang tua yang saat kecilnya mengalami kesulitan, mereka memanjakan anak dengan cara memenuhi segala sesuatu untuk anaknya. Dengan tujuan agar si anak tidak mengalami kesusahan seperti dia waktu kecil.

Namun hal tersebut sebenarnya malah menimbulkan kerugian sendiri pada sang anak. Hal ini sejalan dengan hukum berpasangan, yaitu hitam putih, siang malam dan susah senang.

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Sunday, August 18, 2019

The Google Boys

Inspirasi Sukses Google dari Pendirinya, Sergey Brin dan Larry Page


Oleh : George Beahm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 153 halaman

-------

"The Google Boys" adalah sebuah buku yang ditulis oleh George Beahm. Buku ini mengisahkan perjalanan menakjubkan dua pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, serta kisah sukses yang mereka rintis dari garasi kecil hingga menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Dengan penuh detail, Beahm menggambarkan bagaimana kedua "anak muda" ini mengubah cara kita menggunakan internet dan mengembangkan mesin pencarian yang mengubah dunia secara radikal. Buku ini tidak hanya menceritakan tentang pencapaian bisnis mereka, tetapi juga mengungkap sisi manusiawi dari perjalanan mereka, termasuk tantangan, kegagalan, dan konflik yang mereka hadapi dalam membangun perusahaan mereka.

Dengan gaya narasi yang mengalir, "The Google Boys" mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan inspiratif dan visi revolusioner dari dua tokoh penting dalam dunia teknologi modern.

-------

Dalam buku yang menginspirasi ini, penulis George Beahm membawa pembaca dalam perjalanan mendebarkan ke dalam kehidupan dan prestasi Sergey Brin dan Larry Page, dua tokoh yang mengubah wajah internet modern dengan mendirikan Google.

Dalam "The Google Boys", Beahm menyoroti asal-usul beserta perjalanan mendebarkan perusahaan yang kini menjadi raksasa teknologi. Dari garasi sempit di Palo Alto, California, hingga perusahaan multi-miliar dolar yang menguasai berbagai aspek kehidupan kita, Brin dan Page memperlihatkan kepada dunia bagaimana visi, keberanian, dan ketekunan dapat mengubah segalanya.

Salah satu poin penting yang disoroti oleh Beahm adalah cara Brin dan Page berhasil mengubah cara kita menggunakan internet melalui penciptaan mesin pencari yang cepat, efisien, dan relevan. Dengan algoritma yang canggih dan fokus yang kuat pada pengalaman pengguna, Google telah menjadi tonggak dalam memfasilitasi akses informasi secara global.

Namun, "The Google Boys" tidak hanya membahas tentang keberhasilan mereka dalam bisnis. Beahm juga menggali sisi manusiawi dari perjalanan Brin dan Page, termasuk tantangan pribadi dan profesional yang mereka hadapi. Dari konflik internal hingga tekanan dari kompetisi industri, pembaca dibawa untuk memahami bahwa kesuksesan tidak datang tanpa rintangan.

Buku ini tidak hanya menggugah semangat wirausaha, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang inovasi, keberanian, dan keuletan. Melalui analisis mendalam dan gaya penceritaan yang menarik, "The Google Boys" menjadi sebuah karya yang memukau dan mendidik bagi siapa pun yang tertarik dengan kisah perjalanan menuju kesuksesan.

-------

Google lahir dan tumbuh dari rasa haus akan informasi, bukan seperti perusahaan dot com pada umumnya yang mencari ketenaran ataupun kesuksesan finansial.

Tahun 1973. Tanggal 26 Maret 1973, Larry Page lahir dan pada tanggal 21 Agustus 1973, Sergey Brin lahir. Tahun 1995, Larry Page bertemu dengan Sergey Brin di Stanford University. Bulan Mei 1995 Page lulus dengan gelar B.A. dari College of Engineering, University of Michigan. Sedangkan Brin lulus dengan gelar M.S. dari Stanford University.

Tahun 1996, Page dan Brin bekerja sama membuat search engine (mesin pencari web) dengan nama BackRub yang kemudian berubah nama menjadi Google.

Bulan Agustus 1998, Google dengan nama perusahaan Google Inc mendapatkan dana $100.000 dari Andy Bechtolsheim. Kemudian Google secara resmi berdiri pada tanggal 4 September 1998.

Bulan Juni 1999, Google mendapatkan pendanaan sebesar $25 juta dari Sequoia Capital dan Kleiner Perkins.

Tahun 2000, Google menjadi search engine terbesar dengan indeks 1 miliar laman web.

Agustus tahun 2004, dalam IPO Google, sahamnya dijual dengan harga perdana $85 per lembar, berjumlah 19.605.052 saham. Saat itu tidak seorang pun yang tahu cara menghasilkan uang dari search engine.

Tahun 2004, Google bertemu dengan Andy Rubin, sang pencipta Android. Sebelumnya mereka mempunyai lemari berisi lebih dari 100 telepon, dan saat itu Andy percaya bahwa jika dibuat standar 1 sistem operasi open source, maka inovasi bakal bergerak di seluruh industri handphone.

Oktober 2006, Google membeli YouTube dengan harga $1.65 miliar.

November 2007, Google merilis Android sebagai OS open platform untuk handphone atau smartphone.

Mei 2008, Page mengatakan pada majalah Fortune, bahwa Google mempunyai formula 70/20/10, yaitu dimana 70% sumber daya dipergunakan pada bisnis inti, 20% digunakan untuk proyek yang masih berhubungan dengan bisnis inti, dan 10% dipergunakan untuk proyek yang tidak ada hubungannya dengan bisnis inti. Dari 10% ini banyak orang beranggapan ini hanya buang-buang uang saja, tapi dari sanalah semua barang baru berasal.

Juli 2008, Google mengindeks 1 triliun laman web.

Mei 2010, Google berinvestasi 2 ladang kincir angin sebagai energi terbarukan dengan 169.5 megawatt listrik.

Mei 2011, penjualan AdWords menghasilkan $64 miliar.

18 April 2014, harga saham Google $536.10, kapitalisasi pasar perusahaan Google adalah 363.39 miliar.

-------

Sergey Brin, seorang ikon dalam dunia teknologi modern, lahir pada 21 Agustus 1973, di Moskow, Rusia. Namun, perjalanannya menuju ketenaran sebagai salah satu pendiri Google tidak dimulai di Silicon Valley, tetapi di lingkungan akademis yang penuh dengan intelektualitas.

Brin pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya pada usia enam tahun, melarikan diri dari rezim komunis di Uni Soviet. Latar belakangnya yang multikultural memberinya wawasan yang unik tentang dunia dan teknologi.

Pada tahun 1995, di Universitas Stanford, Brin bertemu Larry Page. Keduanya menjadi pasangan yang tidak hanya berbagi minat pada teknologi informasi, tetapi juga memiliki visi yang sama: membuat informasi dunia dapat diakses secara lebih mudah dan cepat. Dari garasi kecil di Menlo Park, California, lahirlah Google.

Keputusan Brin untuk meninggalkan program doktoralnya di Stanford menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Bersama Page, ia meluncurkan Google pada tahun 1998. Mesin pencari mereka yang inovatif dan efisien dengan cepat menarik perhatian publik, dan Google pun tumbuh pesat menjadi sebuah perusahaan teknologi yang mendominasi hampir setiap aspek kehidupan kita.

Namun, kesuksesan Brin tidak terbatas pada Google. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek revolusioner, seperti Google Glass, proyek kendaraan otonom, dan investasi dalam riset kesehatan melalui perusahaan induk Alphabet Inc.

Di balik kesuksesan profesionalnya, Brin juga dikenal karena filantropinya. Melalui Brin Wojcicki Foundation, ia dan istrinya, Anne Wojcicki, berupaya untuk memajukan penelitian medis, pendidikan, dan hak asasi manusia.

Namun, seperti halnya tokoh besar lainnya, Brin juga menghadapi tantangan. Perubahan dalam regulasi teknologi, privasi data, dan isu-isu moral seputar kekuasaan perusahaan teknologi besar adalah beberapa dari banyak permasalahan yang harus dihadapinya.

Sergey Brin, dengan kecerdasan dan visinya, telah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi. Melalui inovasi dan dedikasinya, ia tidak hanya mengubah cara kita melihat dan menggunakan internet, tetapi juga mendorong batasan-batasan teknologi untuk menciptakan dunia yang lebih terhubung dan berdaya.

-------

Larry Page, lahir pada 26 Maret 1973, di Lansing, Michigan, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teknologi modern. Dikenal sebagai salah satu pendiri Google, Page telah merintis jalan untuk mengubah cara kita menjelajahi dan memahami dunia melalui internet.

Page tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan minat terhadap ilmu komputer dan teknologi. Ayahnya, Carl Page, adalah seorang profesor komputer di Universitas Michigan, yang memberikan pengaruh besar pada minat dan ambisi Larry di bidang teknologi.

Pada tahun 1995, Larry Page memasuki program doktoral di Universitas Stanford, di mana takdirnya berubah secara dramatis ketika ia bertemu dengan Sergey Brin. Keduanya segera mengikat hubungan yang kokoh, didorong oleh minat bersama dalam eksplorasi potensi internet yang belum tergali sepenuhnya.

Page dan Brin memutuskan untuk menggabungkan kecerdasan dan energi mereka untuk menciptakan sesuatu yang revolusioner: sebuah mesin pencari yang lebih baik dan lebih cerdas. Inilah awal mula terciptanya Google, yang lahir dari garasi kecil di Palo Alto, California, pada tahun 1998.

Google dengan cepat berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, dan Larry Page menjadi arsitek utama di balik keberhasilannya. Pendekatan visioner Page terhadap bisnis, ditambah dengan keinginannya untuk terus-menerus berinovasi, membantu Google tumbuh menjadi raksasa teknologi yang kita kenal hari ini.

Namun, keberhasilan Google hanyalah satu bagian dari cerita Page. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek inovatif di luar Google, termasuk Google X (sekarang dikenal sebagai X), yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi revolusioner seperti mobil otonom dan internet melalui balon udara.

Selain menjadi seorang wirausaha sukses, Larry Page juga dikenal karena filantropinya. Melalui Page Family Foundation dan Google.org, ia telah berupaya untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup.

Meskipun kesuksesannya telah membawa dia ke puncak dunia bisnis dan teknologi, Page juga telah menghadapi berbagai tantangan. Perubahan dalam industri teknologi, persaingan yang sengit, dan pertanyaan etis seputar kekuasaan perusahaan teknologi besar adalah beberapa hal yang harus dihadapinya.

Larry Page, dengan visinya yang luar biasa dan ketekunannya yang tak tergoyahkan, telah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teknologi modern. Melalui kecerdasan, inovasi, dan dedikasinya, ia telah membawa kita ke arah masa depan yang lebih terhubung dan berdaya.

-------

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Friday, August 9, 2019

Kisah, Perjuangan & Inspirasi Chairul Tanjung


Oleh : Punto Ali Fahmi
Penerbit : Checklist, 2018
Tebal : 200 halaman


Ayah Chairul Tanjung merupakan seorang yang idealis, bahkan ideologi yang beliau anut menjadi seperti harga mati. Bagi orang jaman dulu, idealisme lah yang bisa membuat negara Indonesia menuju kemerdekaan.

Beberapa kejadian yang menimpa keluarga Chairul Tanjung, menjadi pelajaran berharga bagi dia dimana idealis itu perlu, tapi tetap harus bersikap realistis. Idealis tidak boleh menjadi harga mati, karena membangung negeri tidak harus dengan mengacaukan sistem yang sudah ada.

Sosok seorang ayah bagi Chairul Tanjung adalah tidak pernah putus asa dan selalu bekerja keras demi keluarga dan menjadikan dia tidak pernah main-main dalam menjalani hidup.

Chairul Tanjung sangat posesif terhadap ibunya, bahkan saking khawatirnya, dia selalu memperhatikan jam makan ibunya, jam tidur ibunya, hari ini ibunya mengalami hal apa, apakah ada yang menyakiti hati ibunya.

Chairul Tanjung pernah mendapat tugas berjualan es mambo, kacang dan jajanan dari sekolah saat SD pada jam istirahat. Sehingga tertanam pedoman dalam diri Chairul Tanjung mengenai tanggung jawab dan tidak sekedar mengejar keuntungan.

Saat bersekolah Chairul Tanjung masuk ke dalam grup teater, dimana dari teater ini dia belajar mengenai prinsip hidup yang hingga kini dia pegang, yaitu "harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar".

Saat kuliah, banyak teman mahasiswa kedokteran gigi yang kesulitan mencari alat kedokteran, insting bisnis Chairul Tanjung pun muncul. Dia kemudian mencari penyuplai yang bisa membeli langsung dari importir.

Tahun 1987, Chairul Tanjung sempat menjadi kontraktor dengan proyek pertama yang menangani pembangunan sebuah pabrik sumpit di Citeurup, Bogor.

Proyek kedua adalah saat merenovasi pabrik sepatu Kasogi di Kapuk Muara. Yang kemudian menjadikan Chairul Tanjung berkenalan dengan Michael Chiam, yang kemudian dari sana tercetus untuk membuat pabrik sepatu sendiri dengan nama PT Pariarti Shindutama dengan modal 150 juta dari dia.

Mulanya order yang masuk hanya 12.000 pasang beach sandal, makin lama kemudian order yang masuk adalah sejumlah 240.000 pasang.

Tahun 1992, Chairul Tanjung memiliki 4 pabrik dan 1 industri Para Group.

Saat Chairul Tanjung membeli Bank Mega, dia dapat menemukan penyakit yang diderita oleh Bank Mega, dengan saldo merah sebesar Rp 90 miliar, dengan kredit macet sebanyak 90%, plus diperparah dnegan teknologi yang minim, yaitu dimana Bank Mega tersebut hanya memiliki 2 komputer saja. Satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya.

Penghematan pun dilakukan besar-besaran, misalnya dengan memastikan setiap jam 6 sore lampu harus mati, jika masih ada keperluan maka harus menggunakan sumber penerangan yang dicolokkan ke saklar.

Pola kerja juga dirubah dengan menerapkan penggunaan teknologi yang lebih canggih untuk menggantikan penggunaan alat manual.

Tahun 1994, Chairul Tanjung membeli aset dari kredit macet Bank Exim berupa gedung dengan peralatan lengkap sebuah studio untuk shooting di daerah Kemang, Jakarta. Chairul Tanjung pun membuat sinetron yang ditawarkan ke stasiun TV swasta berdasarkan surat pesanan yang diterima.

Namun penolakan yang didapat oleh dia. Dan penjelasan dari Direktur Program dikatakan bahwa surat pesanan tersebut tidak bersifat mengikat.

Kekecewaan dan kemarahan Chairul Tanjung pun membuat dia bertekad untuk membuat stasiun TV sendiri.

Kemudian Chairul Tanjung membangun stasiun TV dengan nama PT Televisi Transformasi Indonesia, yang kemudian kita kenal dengan nama Trans TV. Dalam pembangunannya Chairul Tanjung berkonsultasi dengan pengelola RCTI, yaitu Peter F. Gontha dan Alex Kumara.

Saat merekrut 250 karyawan, sebanyak 70.000 pelamar yang masuk. Chairul Tanjung mengedepankan fresh graduate, agar muncul semangat baru di Trans TV yang penuh dengan kreativitas.

Trans TV pun melakukan siaran pertama pada bulan Desember tahun 2001. Mulanya masih belum banyak profit, bahkan lebih banyak pengeluaran. Pada bulan September 2004, Chairul Tanjung menyadari bahwa dikarenakan menginginkan persembahan terbaik, sehingga Trans TV terlalu banyak membeli program dari luar. Untuk menekan biaya produksi, maka dibuatlah in house program.

Tahun 1996, Chairul Tanjung dengan Para Group mendapatkan kepemilikan Bank Karman yang kemudian menjadi bagian dari Bank Mega pada tahun 1997. Termasuk kemudian membeli Bank Tugu menjadi Bank Mega Syariah.

Pada tanggal 6 Agustus 2006, Chairul Tanjung membeli 55% saham milik TV7 yang kemudian TV7 berubah nama menjadi Trans 7.

Pada tanggal 16 April 2010, Chairul Tanjung dalam CT Group membeli 40% saham Carefour, yang kemudian saat ini kita kenal dengan Transmart.

Kerajaan bisnis Chairul Tanjung sebagai berikut :
  1. Bidang Finansial : Bank Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Syariah.
  2. Bidang Investasi : Beli saham Carrefour Indonesia
  3. Bidang Penyiaran & Multimedia : Trans TV, Trans 7, Mahagaya Perdana, Trans Fashion,, Trans Lifestyle dan Trans Studio.
Modal Chairul Tanjung dalam berbisnis menurut dia adalah bahasa atau suara, dan memperluas pertemanan yang tentunya menjadi pilar utama. Kemudian kecerdasan kita dalam membagi waktu.

Pesan dari Chairul Tanjung adalah "Jangan salahkan di mana kamu tinggal, namun belajarlah dari mana kamu tinggal. Setelah itu, potensi yang dimiliki langsung dikembangkan".

#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Saturday, August 3, 2019

Buku Pegangan Pencari Kerja


Oleh : Iskandarsyah Muhammad

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2016
Tebal : 136 halaman


Dalam buku ini Dik Doank memberikan kata pengantar, bahwa dalam memasuki dunia kerja ibarat kita memasuki "rumah baru", untuk itu kita harus mempunyai "kunci", diantaranya kita harus melakukan "perkenalan" dengan interview,  sehingga diperlukan sikap yang baik dalam bersikap dan berbicara.

Dalam interview terdapat beberapa metode yang dilakukan, yaitu :
  • Phone interview
  • Face to face interview
  • Group interview
  • Walk in interview
  • Job fair interview
Namun sebelum dilakukan interview, kita harus membuat surat lamaran dan lampiran CV atau Curiculum Vitae, setidaknya ada 8 unsur yang harus ada pada CV yang baik, yaitu
  1. Data diri yang terperinci
  2. Latar belakang pendidikan
  3. Kegiatan organisasi
  4. Proyek yang pernah dilakukan
  5. Pengalaman bekerja
  6. Penghargaan yang pernah diraih
  7. Kelebihan
  8. Foto diri
Setidaknya ada 5 karakteristik tipe karyawan yang baik dan yang dicari, yaitu :
  1. Sistematis dan terstruktur
  2. Berpikiran terbuka
  3. Berorientasi pada target dan proses
  4. Percaya diri dan konsisten
  5. Ramah dan menyenangkan
-

Buku Pegangan Pencari Kerja ini merupakan panduan lengkap bagi mereka yang tengah memasuki dunia kerja atau ingin memperbaiki strategi dalam pencarian kerja. Buku ini dirancang untuk membantu pembaca memahami proses pencarian kerja dari awal hingga akhir, termasuk cara membuat CV yang menarik, strategi menghadapi wawancara kerja, serta kiat-kiat sukses menembus pasar kerja yang kompetitif.

Buku ini memuat proses pencarian kerja, mulai dari persiapan diri, teknik melamar pekerjaan, hingga kiat sukses saat menjalani proses seleksi.

Cukup penting melakukan persiapan diri sebelum mulai mencari kerja. Pembaca diajak untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri, memahami minat serta bakat, serta menetapkan tujuan karier yang jelas. Persiapan meliputi pengembangan soft skills seperti komunikasi, manajemen waktu, dan kepemimpinan.

Membuat CV dan surat lamaran yang efektif juga cukup penting agar dapat mampu menonjolkan kelebihan pelamar secara singkat namun informatif.

Berbagai sumber lowongan kerja, mulai dari portal pekerjaan online, media sosial, jaringan profesional, hingga cara memanfaatkan acara karier atau job fair. Ini merupakan strategi yang praktis tentang bagaimana menemukan dan memanfaatkan peluang kerja di era digital saat ini.

Untuk menghadapi wawancara kerja, seperti wawancara berbasis kompetensi, wawancara panel, dan wawancara teknis, kita perlu mengetahui tips tentang cara menjawab pertanyaan sulit, menjaga bahasa tubuh yang positif, serta pentingnya mempersiapkan diri dengan riset tentang perusahaan yang dilamar.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana cara melakukan negosiasi gaji yang efektif, tanpa menurunkan peluang mendapatkan pekerjaan. Termasuk yang perlu dipertimbangkana dalah dalam negosiasi, seperti tunjangan, jam kerja, dan prospek karier di perusahaan tersebut.

Sangat penting membangun dan menjaga jaringan profesional (networking) sebagai bagian dari strategi pencarian kerja jangka panjang. Misalnya memanfaatkan LinkedIn dan platform profesional lainnya untuk memperluas jaringan, mendapatkan informasi industri terkini, dan menghubungkan diri dengan para profesional yang relevan.


#sinopsisbuku
#resensibuku
#potretbuku

Featured Post

Wow Marketing

Oleh : Hermawan Kartajaya Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2015 Tebal : 239 halaman Marketing 1.0 : Product centric marketing, dimana obj...

Related Posts