Wednesday, February 15, 2023

The Psychology of Money

Pelajaran Abadi Mengenai Kekayaan, Ketamakan dan Kebahagiaan

Oleh : Morgan Housel

Penerbit : PT Bentara Aksara Cahaya, 2020

Tebal : 238 halaman

Mengelola uang tidak berhubungan dengan kecerdasan namun lebih kepada perilaku kita. Contoh yang sahih adalah Ronald Read, seorang petugas kebersihan yang mempunyai harta $ 8 juta dollar saat meninggal dunia. Hal ini bisa terjadi karena beliau rajin menabung dan beli saham blue chip selama puluhan tahun.

Berbeda halnya dengan Richard Fuscone, sang eksekutif Merrill Lynch lulusan Harvard dengan gelar MBA bahkan pernah masuk dalam daftar 40 di bawah 40. Namun di tahun 2008 mengalami kebangkrutan.

Ada lagi contoh dari Rajat Gupta dan Bernard L. Madoff, yang memberikan pelajaran agar kita jangan tamak. Dimana mereka membuang semua yang sudah pernah didapat karena ingin lebih dan lebih. Mereka tidak tahu kapan harus berkata cukup.

Contoh lah Warren Buffett dimana hartanya mencapai $ 84,5 milyar. Kunci keberhasilan Buffett adalah beliau sudah membangun bisnisnya sejak kecil yaitu saat berusia 10 tahun hingga sekarang tiga perempat abad lamanya. Itulah rahasianya, yaitu waktu. 

Buffett adalah investor yang tampak kuno yang cenderung pasif namun optimis pada pertumbuhan ekonomi riil dalam waktu panjang.

Ada 1 persona lagi yang dibahas di buku ini, yaitu John D. Rockefeller yang merupakan pengusaha sukses yang terkenal penyendiri dan jarang bicara. Yang beliau hasilkan bukanlah produk dari tangan atau dari kata-kata, namun lebih apa yang dia dapat di dalam kepala.

Rockefeller bekerja dengan akal pikiran.

Yang satu sabar, yang satu tamak.

Yang satu keberuntungan, di lain hal bisa jadi keputusan yang sangat cerdas. Karena garis batas berani dan sembarangan sangatlah tipis. Resiko dan keberuntungan adalah 2 sisi koin yang sama.

Namun perlu diingat bahwa keberhasilan adalah guru yang payah, membuat orang pandai berpikir dia tak bisa kalah.

Sesuai dengan quote dari Voltaire bahwa sejarah tidak pernah mengulang, namun manusia lah yang selalu mengulang.

Untuk itu hanya ada 1 cara agar tetap kaya, yaitu hemat dan paranoia.

Oleh karena itu, bedakan dulu kekayaan (wealthy) dengan kaya (rich).

Kebahagian bukan lah sekedar kaya, namun dapat memegang kendali dari apa yang dilakukan, kapan dan dengan siapa.

Ada 2 topik yang dapat mempengaruhi kehidupan kita, yaitu uang dan kesehatan.

Tips agar tenang, salah satunya adalah sediakan dana darurat 6 bulan, sehingga kita tidak akan bangkrut jika harus menunggu sampai mendapat pekerjaan baru.

Pensiun lah ketika ingin, bukan ketika harus.

Lalu mengapa banyak orang yang bersedia beli mobil, rumah, makanan, liburan namun jarang dan bahkan tidak mau berinvestasi dengan hasil yang bagus? Jawabannya adalah karena hasil dari keberhasilan investasi tidak langsung kelihatan.

Banyak orang membuat keputusan finansial lalu disesali karena minim informasi dan tidak menggunakan logika dan akal sehat.

Jadilah lebih baik hati, dan jangan pamer.

Ada paradox yang perlu kita resapi.

Yaitu yang pertama bahwasanya separuh dari manajer portofolio keuangan tidak menanamkan uang sendiri ke produk finansialnya. Yang kedua, dokter yang biasanya habis-habisan melawan kanker sang pasien, namun akan lebih memilih perawatan sederhana untuk penyakit kanker yang dia alami sendiri.

Oleh karenanya banyak CEO yang membuat keputusan finansial penting tidak dibuat di tabel atau buku pelajaran, tapi di meja makan.

Kesimpulan adalah kita harus bisa menghentikan kenaikan standar gaya hidup ketika muda. Lalu hidup nyaman di bawah kemampuan belanja. Kemudian menabung lah karena kita hidup di dunia yang sering memberi kejutan.

Untuk itu kita harus bisa menguasai psikologi uang. 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

The Jesus Family Tomb

Related Posts