Wednesday, December 31, 2025

Makasar sebagai Kota Maritim

Oleh : Abdul Rasjid

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 2000

Tebal : 90 halaman



Buku Makasar sebagai Kota Maritim karya Abdul Rasjid mengulas peran penting Makasar sebagai salah satu pusat peradaban maritim terbesar di Nusantara. Buku ini menempatkan Makasar bukan sekadar sebagai kota pelabuhan, melainkan sebagai simpul strategis perdagangan, kebudayaan, dan kekuatan politik berbasis laut yang membentuk sejarah kawasan Indonesia Timur dan Asia Tenggara.

Isi buku ini menelusuri perkembangan Makasar sejak masa kerajaan Gowa dan Tallo, ketika wilayah ini tumbuh sebagai kekuatan maritim yang terbuka terhadap dunia luar. Abdul Rasjid menjelaskan bahwa letak geografis Makasar yang menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional menjadikannya pelabuhan alami yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, mulai dari Nusantara, Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan inilah yang mendorong Makasar berkembang menjadi kota kosmopolitan dengan dinamika ekonomi yang kuat.

Dalam buku ini, Makasar digambarkan sebagai kota pelabuhan bebas yang menganut prinsip keterbukaan perdagangan. Siapa pun dapat berdagang tanpa diskriminasi, sebuah konsep yang berbeda dari praktik monopoli yang diterapkan bangsa Eropa pada masa kolonial. Prinsip ini membuat Makasar cepat berkembang sebagai pusat distribusi rempah-rempah dan komoditas maritim lainnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penghubung antara wilayah barat dan timur Nusantara.

Abdul Rasjid juga menyoroti kekuatan maritim Makasar yang bertumpu pada teknologi pelayaran dan tradisi bahari masyarakatnya. Perahu-perahu tradisional seperti pinisi menjadi simbol keunggulan orang Makasar dalam navigasi laut dan perdagangan jarak jauh. Budaya pelaut yang kuat membentuk karakter masyarakat Makasar yang berani, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yang turut memengaruhi etos kerja dan semangat perniagaan mereka.

Buku ini tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga menguraikan dinamika politik dan konflik yang melibatkan Makasar, terutama dengan VOC Belanda. Abdul Rasjid menjelaskan bagaimana persaingan kepentingan dagang dan upaya monopoli VOC berujung pada Perjanjian Bongaya, yang menjadi titik balik melemahnya kekuatan maritim Makasar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan laut tidak hanya ditentukan oleh armada dan pelabuhan, tetapi juga oleh strategi politik dan diplomasi internasional.

Pada bagian akhir, Makasar sebagai Kota Maritim menekankan pentingnya melihat kembali identitas maritim Makasar dalam konteks Indonesia modern. Abdul Rasjid mengajak pembaca memahami bahwa kejayaan masa lalu Makasar sebagai kota maritim menyimpan pelajaran berharga tentang pengelolaan pelabuhan, keterbukaan ekonomi, serta peran laut sebagai penghubung peradaban. Warisan sejarah ini menjadi dasar penting untuk membangun kembali visi Indonesia sebagai negara maritim.

Secara keseluruhan, buku Makasar sebagai Kota Maritim memberikan perspektif sejarah yang komprehensif tentang bagaimana laut membentuk Makasar sebagai pusat perdagangan, budaya, dan kekuasaan. Buku ini relevan bagi pembaca yang tertarik pada sejarah maritim Nusantara, identitas kota pelabuhan, dan peran strategis Indonesia dalam jalur pelayaran dunia.

Wednesday, December 24, 2025

Kerajaan Sriwijaya

Oleh : Nia Kurnia

Penerbit : Girimukti Pasaka, 1983

Tebal : 154 halaman



Buku Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia mengajak pembaca mengenal salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara, yaitu Sriwijaya. Melalui bahasa yang ringan namun informatif, buku ini memaparkan bagaimana Sriwijaya tumbuh sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional dan menjadi pusat keagamaan Buddha di Asia Tenggara selama berabad-abad.

Isi buku ini menjelaskan bahwa Sriwijaya berkembang sekitar abad ke-7 Masehi dengan pusat kekuasaan yang diyakini berada di wilayah Sumatra bagian selatan. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali lalu lintas dagang antara India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia menggambarkan bagaimana kekuatan Sriwijaya tidak bertumpu pada wilayah daratan yang luas, melainkan pada kemampuan menguasai laut, pelabuhan, dan jaringan niaga antarpulau.

Dalam buku ini, pembaca diperkenalkan pada sumber-sumber sejarah Sriwijaya, seperti prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, dan Telaga Batu, serta catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing. Melalui sumber-sumber tersebut, Sriwijaya digambarkan sebagai kerajaan yang terorganisasi dengan baik, memiliki sistem administrasi, serta menjunjung tinggi konsep kekuasaan raja sebagai pelindung kesejahteraan dan stabilitas kerajaan.

Nia Kurnia juga menyoroti peran Sriwijaya sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha Mahayana. Banyak pendeta dari Tiongkok dan India singgah di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda. Hal ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga pusat intelektual dan spiritual yang disegani di kawasan Asia.

Buku ini tidak mengabaikan sisi kemiliteran Sriwijaya. Armada laut yang kuat menjadi tulang punggung pertahanan dan pengaruh kerajaan. Dengan kekuatan maritim tersebut, Sriwijaya mampu menjaga keamanan jalur perdagangan sekaligus menekan wilayah-wilayah yang menentang kekuasaannya. Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan di India, turut memperkuat posisi Sriwijaya di panggung internasional.

Pada bagian akhir, buku Kerajaan Sriwijaya membahas kemunduran kerajaan ini, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti serangan Kerajaan Chola dari India Selatan, melemahnya kontrol atas jalur perdagangan, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru di Nusantara. Meskipun akhirnya runtuh, Nia Kurnia menegaskan bahwa warisan Sriwijaya tetap hidup dalam tradisi maritim, budaya, dan sejarah Indonesia.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan gambaran utuh tentang Sriwijaya sebagai simbol kejayaan maritim Nusantara. Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana laut, perdagangan, dan budaya membentuk identitas bangsa Indonesia sejak masa lampau.

Wednesday, December 17, 2025

Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara

Oleh : R. Cecep Eka Permana

Penerbit : Wedatama Widya Sastra, 2019

Tebal : 180 halaman



Buku Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara karya R. Cecep Eka Permana mengajak pembaca menelusuri akar kebudayaan maritim Indonesia melalui tinggalan arkeologis paling tua dan sunyi: gambar cadas atau lukisan pada dinding batu. Melalui pendekatan arkeologi, sejarah, dan antropologi, buku ini menunjukkan bahwa identitas kemaritiman Nusantara bukan sekadar narasi modern, melainkan telah tertanam sejak ribuan tahun lalu dalam ekspresi visual masyarakat prasejarah.

Isi buku ini mengungkap bahwa gambar cadas di berbagai wilayah Nusantara—seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara—bukan hanya representasi estetika, tetapi juga media komunikasi simbolik yang merekam relasi manusia dengan laut. Banyak gambar yang menampilkan perahu, hewan laut, aktivitas pelayaran, hingga simbol-simbol kosmologis yang berkaitan dengan dunia maritim. Hal ini menegaskan bahwa laut telah menjadi ruang hidup, jalur mobilitas, dan sumber pengetahuan bagi masyarakat prasejarah Nusantara.

R. Cecep Eka Permana menjelaskan bahwa penggambaran perahu dalam lukisan cadas memiliki nilai penting dalam memahami teknologi maritim awal. Bentuk perahu yang tergambar menunjukkan tingkat keterampilan teknik yang maju, termasuk penggunaan cadik, sistem penggerak, dan struktur lambung yang memungkinkan pelayaran jarak jauh. Temuan ini memperkuat teori bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut ulung yang mampu menaklukkan samudra dan membangun jejaring antarwilayah jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan maritim besar.

Buku ini juga menyoroti hubungan antara gambar cadas dan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah. Laut tidak hanya dipahami sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai entitas spiritual yang sakral. Simbol-simbol tertentu dalam gambar cadas mencerminkan pandangan kosmologis tentang kehidupan, kematian, dan perjalanan arwah, yang sering kali dikaitkan dengan perahu sebagai sarana transisi antar dunia. Dengan demikian, kemaritiman Nusantara sejak awal telah menyatu dengan dimensi religius dan filosofis.

Selain memaparkan data arkeologis, buku ini juga mengkritisi minimnya perhatian terhadap warisan budaya gambar cadas, terutama yang berkaitan dengan sejarah maritim. Banyak situs yang terancam rusak akibat aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan kurangnya upaya pelestarian. Penulis menekankan pentingnya perlindungan dan penelitian lanjutan agar gambar cadas tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga sumber pembelajaran identitas bangsa.

Pada akhirnya, Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara menegaskan bahwa sejarah kemaritiman Indonesia tidak dimulai dari catatan tertulis atau pelabuhan-pelabuhan besar, melainkan dari goresan-goresan purba di dinding batu. Buku ini membuka cara pandang baru bahwa laut telah membentuk karakter, budaya, dan peradaban Nusantara sejak masa prasejarah. Karya ini menjadi kontribusi penting dalam memahami jati diri Indonesia sebagai bangsa bahari, sekaligus ajakan untuk merawat ingatan kolektif yang tertulis diam di dinding-dinding alam.

Wednesday, December 10, 2025

Jurus Miliarder

Oleh : Grant Cardone

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2018

Tebal : 103 halaman


Buku Jurus Miliarder karya Grant Cardone adalah panduan brutal, lugas, dan penuh energi tentang bagaimana seseorang bisa mengubah hidupnya dengan cara berpikir yang benar-benar berbeda dari kebanyakan orang. Cardone menegaskan bahwa menjadi kaya bukan soal keberuntungan atau kecerdasan semata, tetapi soal skala tindakan dan mentalitas “10X”—yaitu berani berpikir jauh lebih besar dan bertindak jauh lebih masif dibanding orang rata-rata. Buku ini memulainya dengan meruntuhkan mitos-mitos yang sering membelenggu banyak orang, seperti keyakinan bahwa bekerja keras saja sudah cukup, atau bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang tertentu saja. Bagi Cardone, kesuksesan adalah kewajiban moral, bukan pilihan; sebuah pedoman hidup yang harus dikejar dengan totalitas.

Sepanjang buku, Grant Cardone menjelaskan bahwa perbedaan antara orang yang sukses luar biasa dan orang yang sukses biasa-biasa saja terletak pada level tindakan. Kebanyakan orang hanya beroperasi pada level standar—melakukan apa yang perlu dilakukan—sementara mereka yang masuk kategori “miliarder mental” bertindak pada tingkat yang jauh di atas standar, mengambil risiko, memperlebar kapasitas diri, dan tidak pernah berhenti ketika menghadapi hambatan. Ia juga menekankan bahwa dunia ini tidak menghargai orang yang ragu-ragu; justru dunia menghargai mereka yang bergerak cepat, mengambil keputusan, dan konsisten mengeksekusi. Konsep ini dikenal sebagai Massive Action, sebuah prinsip bahwa tindakan besar secara konsisten akan menghasilkan peluang yang besar pula.

Buku ini juga mengupas obsesi sebagai bahan bakar kesuksesan. Grant Cardone tidak menganggap obsesi sebagai sesuatu yang negatif; justru ia menyebut bahwa semua pencapaian luar biasa lahir dari obsesi. Obsesi menciptakan fokus ekstrem, komitmen tanpa kompromi, dan energi yang membuat seseorang tetap bergerak bahkan saat orang lain berhenti. Selain itu, Cardone menekankan bahwa untuk menjadi miliarder secara mental dan finansial, seseorang perlu mengembangkan ketahanan yang tinggi terhadap penolakan, kegagalan, dan kritik. Dunia akan selalu menilai, tetapi mereka yang bertahan dan terus maju adalah mereka yang akhirnya menang.

Salah satu bagian penting buku ini adalah pemahaman tentang tanggung jawab total. Cardone meminta pembaca untuk berhenti menyalahkan keadaan, ekonomi, masa kecil, bos, atau keberuntungan. Prinsipnya sederhana namun keras: apa pun yang terjadi dalam hidupmu adalah tanggung jawabmu. Dengan mengambil alih kendali penuh atas kondisi hidup, seseorang akan berhenti mencari alasan dan mulai mencari solusi. Dari sinilah Cardone menumbuhkan mentalitas seorang miliarder—mentalitas yang melihat masalah sebagai peluang, bukan hambatan.

Akhirnya, Jurus Miliarder mengajarkan bahwa kesuksesan besar membutuhkan visi besar. Orang biasa membuat target kecil karena takut gagal, sementara para miliarder membuat target besar karena itu memaksanya untuk berkembang. Buku ini menantang pembaca untuk berani menetapkan mimpi yang tampak tidak masuk akal, lalu membangun disiplin dan sistem tindakan yang mampu membawa mereka ke sana. Bagi Grant Cardone, hidup terlalu singkat untuk bermain kecil. Jika seseorang ingin hidup luar biasa, ia harus bertindak luar biasa.

Wednesday, December 3, 2025

Your Sin is not Greater Than God's Mercy

Oleh : Nouman Ali Khan

Penerbit : Noura Books, 2017

Tebal : 280 halaman


Rahmat Allah Seluas Langit: Pesan Utama Buku “Your Sin Is Not Greater Than God’s Mercy”

Buku Your Sin Is Not Greater Than God's Mercy karya Nouman Ali Khan merupakan perjalanan spiritual yang menyentuh batin, mengingatkan bahwa tidak ada dosa manusia yang lebih besar daripada ampunan Allah. Dengan gaya bahasa yang lembut, logis, dan menenangkan, buku ini menyisir luka terdalam dalam diri—rasa bersalah, penyesalan, dan keputusasaan—yang kerap membuat seseorang menjauh dari Tuhan. Pesan besarnya sederhana namun sangat kuat: jatuhlah sebanyak apa pun, tetapi jangan pernah berhenti kembali kepada Allah.

Nouman Ali Khan membuka buku ini dengan menggambarkan realitas batin manusia: banyak orang merasa telah terlalu jauh tersesat sehingga tidak layak lagi untuk mendekat kepada Allah. Mereka takut, malu, dan merasa najis oleh dosa. Padahal, justru pada saat itulah seseorang sedang paling membutuhkan Tuhan. Buku ini menekankan bahwa setan bekerja bukan hanya menggoda manusia untuk berbuat dosa, tetapi juga membuat manusia putus asa setelah melakukannya. Di titik inilah pengingat tentang rahmat Allah menjadi obat paling ampuh.

Buku ini sarat dengan penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an yang menggambarkan rahmat Tuhan bagi hamba-Nya. Nouman menunjukkan bagaimana Allah dalam banyak kesempatan memanggil manusia dengan panggilan penuh cinta, bukan kecaman. Ayat tentang ampunan selalu mendahului ayat tentang hukuman—sebuah tanda bahwa cinta dan rahmat lebih dahulu ditawarkan sebelum peringatan dan pembalasan. Allah bukan sekadar hakim, tetapi Rabb yang memahami isi hati manusia, setiap air mata, setiap kegelisahan, dan setiap niat untuk kembali.

Di bagian selanjutnya, buku ini membahas konsep tobat secara lebih manusiawi: tobat bukan hanya ritual kefasihan kata-kata, melainkan perjalanan bertahap untuk memperbaiki diri. Seseorang boleh saja limbung, tergelincir lagi, kembali menangis, lalu bangkit lagi—dan itu semua masih dianggap proses mendekat kepada Allah. Selama hati tidak menyerah, Allah tidak akan menyerah kepada manusia. Nouman mengajak pembaca menyadari bahwa ukuran seorang hamba bukan seberapa bersih masa lalunya, tetapi seberapa keras ia berusaha bangkit dan kembali kepada Allah.

Buku ini juga mengajak pembaca melihat diri sendiri dengan kacamata kasih sayang, bukan kebencian diri. Orang-orang yang terjerat rasa bersalah cenderung menganggap bahwa mereka tidak pantas bahagia, tidak pantas berdoa, apalagi dicintai oleh Allah. Padahal, perasaan rendah diri seperti itu hanya menjauhkan seseorang dari sumber ketenangan sejati. Nouman mengingatkan bahwa Allah justru mencintai hamba yang bersujud sambil menangis karena sadar sudah terlalu lama jauh dari-Nya. Tangisan itu bukan tanda keterpurukan, tetapi tanda hidupnya hati.

Pada bagian akhir, buku ini menyampaikan pesan puncak: kesalahanmu bukan identitasmu. Dosa bukan label yang melekat selamanya. Seseorang bisa berubah, bisa menjadi lebih baik, dan bisa mencapai derajat yang mulia. Banyak orang saleh dalam sejarah Islam justru memiliki masa lalu yang kelam, tetapi mereka bangkit, belajar, dan mempersembahkan hidupnya untuk kebaikan. Allah membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri—tanpa memandang masa lalu.

Your Sin Is Not Greater Than God's Mercy bukan sekadar buku agama, melainkan pengingat untuk hidup dengan pengharapan. Ia memulihkan jiwa yang terkoyak oleh penyesalan, menguatkan hati yang lelah, dan mengingatkan bahwa rahmat Allah adalah pelukan yang tidak pernah ditutup. Seberapa pun dalam gelapnya masa lalu, cahaya ampunan selalu ada—selama seseorang berani melangkah perlahan menuju-Nya.

Featured Post

Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra

Oleh : Hasan Muarif Ambary Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997 Tebal : 175 halaman Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengun...

Related Posts