Oleh : R. Cecep Eka Permana
Penerbit : Wedatama Widya Sastra, 2019
Tebal : 180 halaman
Buku Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara karya R. Cecep Eka Permana mengajak pembaca menelusuri akar kebudayaan maritim Indonesia melalui tinggalan arkeologis paling tua dan sunyi: gambar cadas atau lukisan pada dinding batu. Melalui pendekatan arkeologi, sejarah, dan antropologi, buku ini menunjukkan bahwa identitas kemaritiman Nusantara bukan sekadar narasi modern, melainkan telah tertanam sejak ribuan tahun lalu dalam ekspresi visual masyarakat prasejarah.
Isi buku ini mengungkap bahwa gambar cadas di berbagai wilayah Nusantara—seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara—bukan hanya representasi estetika, tetapi juga media komunikasi simbolik yang merekam relasi manusia dengan laut. Banyak gambar yang menampilkan perahu, hewan laut, aktivitas pelayaran, hingga simbol-simbol kosmologis yang berkaitan dengan dunia maritim. Hal ini menegaskan bahwa laut telah menjadi ruang hidup, jalur mobilitas, dan sumber pengetahuan bagi masyarakat prasejarah Nusantara.
R. Cecep Eka Permana menjelaskan bahwa penggambaran perahu dalam lukisan cadas memiliki nilai penting dalam memahami teknologi maritim awal. Bentuk perahu yang tergambar menunjukkan tingkat keterampilan teknik yang maju, termasuk penggunaan cadik, sistem penggerak, dan struktur lambung yang memungkinkan pelayaran jarak jauh. Temuan ini memperkuat teori bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut ulung yang mampu menaklukkan samudra dan membangun jejaring antarwilayah jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan maritim besar.
Buku ini juga menyoroti hubungan antara gambar cadas dan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah. Laut tidak hanya dipahami sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai entitas spiritual yang sakral. Simbol-simbol tertentu dalam gambar cadas mencerminkan pandangan kosmologis tentang kehidupan, kematian, dan perjalanan arwah, yang sering kali dikaitkan dengan perahu sebagai sarana transisi antar dunia. Dengan demikian, kemaritiman Nusantara sejak awal telah menyatu dengan dimensi religius dan filosofis.
Selain memaparkan data arkeologis, buku ini juga mengkritisi minimnya perhatian terhadap warisan budaya gambar cadas, terutama yang berkaitan dengan sejarah maritim. Banyak situs yang terancam rusak akibat aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan kurangnya upaya pelestarian. Penulis menekankan pentingnya perlindungan dan penelitian lanjutan agar gambar cadas tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga sumber pembelajaran identitas bangsa.
Pada akhirnya, Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara menegaskan bahwa sejarah kemaritiman Indonesia tidak dimulai dari catatan tertulis atau pelabuhan-pelabuhan besar, melainkan dari goresan-goresan purba di dinding batu. Buku ini membuka cara pandang baru bahwa laut telah membentuk karakter, budaya, dan peradaban Nusantara sejak masa prasejarah. Karya ini menjadi kontribusi penting dalam memahami jati diri Indonesia sebagai bangsa bahari, sekaligus ajakan untuk merawat ingatan kolektif yang tertulis diam di dinding-dinding alam.

No comments:
Post a Comment