Oleh : Mpu Prapanca
Penerbit : Narasi, 2018
Tebal : 306 halaman
Kakawin Nagarakertagama merupakan salah satu karya sastra klasik terpenting dalam sejarah Nusantara. Ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (1287 Saka), kakawin ini menjadi sumber utama untuk memahami kejayaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Narasi pada tahun 2018 menghadirkan kembali naskah kuno ini dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, tanpa menghilangkan kekayaan makna historis dan sastranya.
Secara keseluruhan, Nagarakertagama berbentuk puisi kakawin berbahasa Jawa Kuno yang terdiri dari pupuh-pupuh dengan metrum India. Namun di balik bentuk sastranya yang indah, karya ini sesungguhnya merupakan dokumen politik dan sejarah yang sangat penting. Mpu Prapanca, yang pernah menjadi pejabat keagamaan Buddha di lingkungan istana, menulis kakawin ini sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Hayam Wuruk dan sebagai catatan tentang tata pemerintahan, wilayah kekuasaan, kehidupan keagamaan, serta struktur sosial Majapahit.
Salah satu bagian paling terkenal dari kakawin ini adalah daftar wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi berbagai daerah di Nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga sebagian wilayah Semenanjung Melayu. Penyebutan daerah-daerah ini sering dipahami sebagai gambaran luasnya pengaruh Majapahit pada abad ke-14. Melalui uraian tersebut, terlihat bahwa Majapahit bukan hanya kerajaan agraris di pedalaman Jawa, melainkan kekuatan maritim yang memiliki jaringan politik dan ekonomi luas di kawasan Asia Tenggara.
Selain memaparkan wilayah kekuasaan, Nagarakertagama juga menggambarkan perjalanan keliling (royal tour) Hayam Wuruk ke berbagai daerah di Jawa Timur. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan simbol konsolidasi kekuasaan dan hubungan harmonis antara pusat kerajaan dengan daerah bawahan. Dalam deskripsi tersebut, Mpu Prapanca melukiskan kemakmuran desa-desa, keindahan alam, serta keteraturan tata ruang dan bangunan suci.
Aspek religius juga menjadi bagian penting dalam kakawin ini. Mpu Prapanca menggambarkan kehidupan spiritual yang harmonis antara ajaran Siwa dan Buddha, mencerminkan sinkretisme keagamaan yang menjadi ciri khas Majapahit. Penghormatan terhadap leluhur raja, pendirian candi-candi sebagai tempat pendharmaan, serta ritual keagamaan istana menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kekuasaan politik dan legitimasi spiritual pada masa itu.
Edisi terjemahan Narasi (2018) memberikan konteks historis yang membantu pembaca modern memahami istilah, struktur sosial, dan latar budaya yang terkandung dalam teks asli. Melalui penjelasan tambahan, pembaca dapat melihat bahwa Nagarakertagama bukan hanya karya puisi, tetapi juga arsip kebudayaan yang mencerminkan visi kebesaran Majapahit sebagai pusat peradaban Nusantara.
Secara keseluruhan, Kakawin Nagarakertagama adalah potret tentang masa keemasan Majapahit yang ditulis dari dalam lingkaran istana. Ia memadukan puisi, politik, sejarah, dan spiritualitas dalam satu karya monumental. Hingga kini, kakawin ini tetap menjadi referensi utama dalam memahami identitas sejarah Indonesia, terutama dalam narasi tentang persatuan wilayah dan kejayaan maritim Nusantara pada abad ke-14.
No comments:
Post a Comment