Wednesday, January 28, 2026

Majapahit Peradaban Maritim

Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia

Oleh :  Irawan Djoko Nugroho

Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010

Tebal : 422 halaman

Buku Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia karya Irawan Djoko Nugroho menghadirkan perspektif segar tentang Kerajaan Majapahit yang selama ini lebih sering dipahami sebagai kekuatan agraris dan politik daratan. Melalui pendekatan sejarah maritim, buku ini menegaskan bahwa kejayaan Majapahit justru bertumpu pada kemampuannya menguasai jalur laut, pelabuhan, dan jaringan perdagangan internasional yang membentang luas di kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.

Isi buku ini menguraikan bahwa Majapahit tidak sekadar menguasai wilayah secara teritorial, tetapi membangun sistem kendali atas pelabuhan-pelabuhan strategis Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan tersebut berfungsi sebagai simpul ekonomi, logistik, dan diplomasi yang menghubungkan Majapahit dengan pusat-pusat perdagangan dunia seperti Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Afrika Timur. Dalam pandangan penulis, penguasaan pelabuhan inilah yang menjadikan Majapahit mampu mengatur arus komoditas, pajak, dan pengaruh politik di kawasan maritim Asia.

Irawan Djoko Nugroho juga menjelaskan bagaimana Majapahit membangun kekuatan laut sebagai fondasi utama peradaban maritimnya. Armada laut tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai sarana pengamanan jalur niaga dan penegasan kedaulatan. Buku ini menggambarkan laut bukan sebagai pemisah antarpulau, melainkan sebagai ruang pemersatu Nusantara, tempat berlangsungnya interaksi ekonomi dan budaya yang intens.

Aspek budaya maritim menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Majapahit digambarkan sebagai peradaban kosmopolitan yang terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas lokal. Pertemuan antara pedagang, pelaut, dan utusan dari berbagai bangsa melahirkan pertukaran gagasan, teknologi pelayaran, seni, dan sistem administrasi. Dalam konteks ini, laut menjadi medium utama penyebaran budaya dan pengetahuan, sekaligus sarana integrasi antarwilayah Nusantara.

Buku ini juga menantang narasi sejarah yang terlalu menitikberatkan pada konsep penaklukan darat. Menurut penulis, kekuasaan Majapahit lebih bersifat hegemonik-maritim, di mana kendali ekonomi dan pelabuhan lebih menentukan daripada pendudukan wilayah secara langsung. Melalui sistem aliansi, pengaruh dagang, dan pengawasan jalur laut, Majapahit mampu menciptakan stabilitas regional yang mendukung kejayaan ekonominya dalam jangka panjang.

Pada bagian akhir, Majapahit Peradaban Maritim mengajak pembaca untuk meninjau ulang identitas Indonesia sebagai bangsa bahari. Irawan Djoko Nugroho menegaskan bahwa kejayaan Majapahit memberikan pelajaran strategis bagi Indonesia modern tentang pentingnya laut, pelabuhan, dan konektivitas maritim dalam membangun kedaulatan dan kemakmuran nasional. Buku ini bukan hanya kajian sejarah, tetapi juga refleksi tentang masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Wednesday, January 21, 2026

Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra

Oleh : Hasan Muarif Ambary

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997

Tebal : 175 halaman


Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengungkap peran penting Banten sebagai salah satu kota pelabuhan utama Nusantara yang terhubung langsung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Banten sebagai pusat aktivitas ekonomi, politik, dan budaya yang menjembatani dunia Timur dan Barat sejak masa pra-kolonial hingga awal kedatangan bangsa Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa letak geografis Banten yang strategis di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya pelabuhan transit yang vital bagi kapal-kapal dagang dari Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Komoditas utama seperti lada, hasil bumi, dan produk kerajinan menjadi daya tarik utama yang mengundang pedagang dari berbagai wilayah untuk singgah dan berdagang. Buku ini menunjukkan bahwa kemakmuran Banten tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya mengelola perdagangan laut dan menjaga stabilitas jalur pelayaran.

Buku ini juga mengulas dinamika politik Kesultanan Banten sebagai kekuatan maritim yang mandiri dan berdaulat. Penguasaan atas pelabuhan dan jaringan dagang memberikan Kesultanan Banten posisi tawar yang kuat dalam hubungan internasional. Digambarkan bagaimana Banten mampu menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan berbagai kekuatan asing, sekaligus menghadapi tekanan dan persaingan dari bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda, yang berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Aspek kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Banten digambarkan sebagai kota kosmopolitan tempat bertemunya berbagai etnis, agama, dan tradisi. Interaksi antara pedagang lokal, Arab, Tiongkok, India, dan Eropa melahirkan kehidupan sosial yang majemuk. Proses ini turut mempercepat penyebaran Islam di kawasan Banten, yang kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan dakwah Islam di Jawa Barat.

Dalam buku ini juga menyoroti peninggalan arkeologis Banten sebagai bukti kejayaan kota pelabuhan ini. Masjid, benteng, makam, dan struktur kota lama menjadi saksi bisu aktivitas maritim dan perdagangan yang pernah berlangsung. Melalui analisis terhadap tinggalan-tinggalan tersebut, buku ini memperkuat pemahaman bahwa Banten merupakan bagian integral dari Jalur Sutra Maritim dan memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia.

Wednesday, January 14, 2026

Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra

Oleh : Supratikno Rahardjo, dkk

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1996

Tebal : 67 halaman


Buku Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra mengulas peran penting Sunda Kelapa sebagai salah satu bandar maritim strategis di Nusantara yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Sunda Kelapa bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam arus perdagangan global yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa sejak awal masehi, kawasan Sunda Kelapa telah berkembang sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir barat laut Jawa menjadikan Sunda Kelapa titik persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas niaga di pelabuhan ini melibatkan komoditas penting seperti lada, hasil hutan, dan produk pertanian yang menjadi daya tarik utama pedagang asing. Dengan demikian, Sunda Kelapa berperan besar dalam menghubungkan hinterland Jawa Barat dengan pasar internasional.

Dalam buku ini, Sunda Kelapa juga digambarkan sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Interaksi antara pedagang lokal dan asing melahirkan dinamika sosial yang kosmopolitan. Pengaruh budaya Tiongkok, India, Arab, dan kemudian Eropa tercermin dalam catatan sejarah, temuan arkeologis, serta tradisi lisan yang berkembang di kawasan pelabuhan. Buku ini juga menekankan bahwa proses pertukaran ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga membawa dampak pada perkembangan budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Aspek politik turut menjadi perhatian penting dalam buku ini. Sunda Kelapa diposisikan sebagai aset strategis yang menentukan kekuatan Kerajaan Sunda. Penguasaan atas pelabuhan berarti kontrol terhadap jalur perdagangan dan sumber pendapatan kerajaan. Buku ini menguraikan bagaimana persaingan antar kekuatan regional dan global—termasuk masuknya Portugis pada abad ke-16—mengubah lanskap politik dan ekonomi Sunda Kelapa. Peristiwa jatuhnya Sunda Kelapa dan perubahan namanya menjadi Jayakarta menandai berakhirnya peran pelabuhan ini di bawah Kerajaan Sunda, sekaligus membuka babak baru sejarah kawasan tersebut.

Dalam buku ini juga menekankan pentingnya melihat Sunda Kelapa dalam konteks Jalur Sutra Maritim yang lebih luas. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan bandar-bandar lain di Nusantara yang saling terhubung. Dengan perspektif ini, buku tersebut memperkuat pemahaman bahwa Nusantara sejak lama telah terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia, jauh sebelum era kolonialisme modern.

Wednesday, January 7, 2026

Kerajaan Tarumanegara

Oleh : Luki Mufti Fikri

Penerbit : Pustaka Buana, 1996

Tebal : 99 halaman



Buku Kerajaan Tarumanegara karya Luki Mufti Fikri membahas secara mendalam salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan peradaban awal Indonesia. Melalui pendekatan sejarah dan arkeologi, buku ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul, struktur kekuasaan, kehidupan sosial, serta pengaruh kebudayaan Kerajaan Tarumanegara yang berkembang di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi.

Dalam buku ini, Tarumanegara digambarkan sebagai kerajaan bercorak Hindu yang tumbuh di kawasan strategis dekat sungai dan jalur perdagangan. Luki Mufti Fikri menjelaskan bahwa Sungai Citarum memiliki peran sentral dalam kehidupan kerajaan, baik sebagai sumber penghidupan, sarana transportasi, maupun simbol kekuasaan. Dari sungai inilah Tarumanegara memperoleh kekuatan ekonomi dan politik, sekaligus membangun hubungan dagang dengan wilayah lain di Nusantara dan Asia Selatan.

Sosok Raja Purnawarman menjadi tokoh sentral dalam pembahasan buku ini. Ia digambarkan sebagai raja yang kuat, visioner, dan memiliki kemampuan administratif yang baik. Melalui prasasti-prasasti seperti Prasasti Tugu, Ciaruteun, Kebon Kopi, dan Jambu, buku ini menunjukkan bagaimana Purnawarman menegaskan kekuasaannya sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat. Pembangunan saluran air dan pengelolaan sungai menjadi bukti bahwa Tarumanegara telah memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dan berorientasi pada kemakmuran bersama.

Luki Mufti Fikri juga menguraikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tarumanegara yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, khususnya aliran Wisnu. Pengaruh India tampak jelas dalam bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang digunakan pada prasasti, namun buku ini menegaskan bahwa budaya lokal tetap memainkan peran penting. Akulturasi antara unsur lokal dan Hindu melahirkan bentuk kebudayaan khas Nusantara yang tidak sepenuhnya meniru India, melainkan mengolahnya sesuai konteks setempat.

Selain aspek politik dan budaya, buku ini membahas runtuhnya Tarumanegara secara bertahap. Melemahnya kekuasaan pusat, perubahan jalur perdagangan, serta munculnya kerajaan-kerajaan baru seperti Sunda dan Galuh menjadi faktor penting dalam kemunduran Tarumanegara. Luki Mufti Fikri menekankan bahwa runtuhnya kerajaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi politik yang melahirkan struktur kerajaan baru di Jawa Barat.

Pada bagian akhir, buku Kerajaan Tarumanegara menempatkan Tarumanegara sebagai tonggak penting sejarah Indonesia awal. Kerajaan ini tidak hanya menjadi bukti tertua keberadaan negara terorganisir di Nusantara, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan, pengelolaan lingkungan, dan hubungan internasional sejak masa awal sejarahnya.

Secara keseluruhan, buku karya Luki Mufti Fikri ini memberikan gambaran utuh tentang Kerajaan Tarumanegara sebagai cikal bakal peradaban Hindu di Indonesia. Dengan bahasa yang relatif mudah dipahami dan berbasis pada sumber sejarah yang kuat, buku ini relevan bagi pelajar, peneliti, maupun pembaca umum yang ingin memahami akar sejarah Nusantara secara lebih mendalam.

Featured Post

Buku Pintar Raja-Raja Jawa Dari Kalingga Hingga Kasultanan Yogyakarta

Oleh : Krisna Bayu Adji Penerbit : Araska, 2012 Tebal : 212 halaman Buku Pintar Raja-Raja Jawa: Dari Kalingga hingga Kasultanan Yogyakarta ...

Related Posts