Wednesday, February 23, 2022

Misquoting Jesus

Kesalahan Penyalinan dalam Perjanjian Baru

Oleh : Bart D. Ehrman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006

Tebal : 273 halaman

Bart D. Ehrman memutuskan untuk lagi memiliki iman yang setengah-setengah dengan mendaftar ke Moody dan mulai kuliah disana pada tahun 1973. Ehrman mengambil jurusan teologi Alkitab. Disana pada kuliah tahun pertama dia mengetahui bahwa kita tidak memiliki tulisan Perjanjian Baru yang asli. Yang dimiliki adalah salinan dari tulisan-tulisan yang dibuat bertahun-tahun kemudian.

Tidak hanya tulisan Perjanjian Baru yang asli, salinan pertama dari naskah asli juga tidak dimiliki. Bahkan salinan dari salinan naskah asli juga tidak.

Taurat memiliki arti secara harfiah "hukum" atau "bimbingan", terdiri dari 5 buku atau yang disebut dengan Pentateukh (lima gulungan), yang merupakan awal dari Alkitab Yahudi atau Perjanjian Lama Kristen yaitu : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.

Untuk itu Ehrman belajar bahasa Yunani, yang merupakan bahasa asli Perjanjian Baru dan bahasa-bahasa kuno lainnya, misalnya Ibrani sebagai bahasa asli Alkitab Kristen Perjanjian Lama dan bahasa Latin. 

Hal ini dikarenakan Bart D. Ehrman menyadari bahwa makna dan nuansa sepenuhnya dari naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani hanya bisa ditangkap jika naskah dibaca dan dipelajari dalam bahasa aslinya.

Pada jaman dahulu satu-satunya cara untuk menyalin sebuah buku adalah dengan menggunakan tangan huruf demi huruf, kata demi kata. Itu lah yang terjadi saat penyalinan pada masa awal. Pada saat itu tidak hanya tidak terdapat percetakan atau penerbit, namun juga masih belum ada hukum hak cipta.

Sebelumnya Kristen merupakan agama kecil dan agama minoritas di Kekaisaran Romawi. Kemudian pada tahun 312 Masehi saat kaisar Romawi, Konstantin menjadi orang Kristen, terjadilah perubahan besar-besaran.

Pada tahun 331 Masehi, dibuatlah Skriptorium sebagai tempat para penyalin profesional untuk menyalin manuskrip.

Dengan adanya para penyalin profesional, pada abad ke-7 manuskrip Bizantium cenderung sangat mirip antara satu dengan yang lain.

Terlebih pada abad pertengahan yaitu pada abad ke-15, saat Johannes Guttenberg berhasil menemukan mesin cetak, naskah Perjanjian Baru dapat disalin dalam bentuk yang cukup konsisten.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

The Jesus Family Tomb

Related Posts