Tuesday, June 30, 2026

Rahasia Magnet Rezeki

Oleh : Nasrullah

Penerbit : Elex Media Komputindo, 2018

Tebal : 234 halaman

Buku Rahasia Magnet Rezeki karya Nasrullah merupakan salah satu buku pengembangan diri bernuansa spiritual yang mengajak pembaca memahami bahwa rezeki tidak hanya diperoleh melalui kerja keras, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas hubungan seseorang dengan Tuhan dan sesama manusia. Diterbitkan oleh AsmaNadia Publishing House pada tahun 2009 dengan ketebalan sekitar 244 halaman, buku ini menjadi salah satu karya yang banyak diminati karena memadukan motivasi, refleksi keislaman, dan pengalaman praktis dalam membangun pola pikir tentang rezeki.

Gagasan utama yang diangkat Nasrullah adalah bahwa setiap manusia memiliki "magnet rezeki", yaitu kondisi hati, pikiran, dan perilaku yang dapat membuka atau justru menghalangi datangnya keberkahan. Penulis berpendapat bahwa banyak orang berusaha meningkatkan penghasilan dengan memperbaiki strategi bisnis atau bekerja lebih keras, tetapi melupakan aspek spiritual yang menjadi fondasi datangnya rezeki. Oleh karena itu, perubahan yang paling penting justru dimulai dari dalam diri.

Salah satu konsep yang paling ditekankan dalam buku ini adalah pentingnya membersihkan hati. Menurut Nasrullah, perasaan iri, dengki, dendam, prasangka buruk, serta kebiasaan mengeluh dapat menjadi penghalang datangnya keberkahan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur, ikhlas, sabar, dan husnuzan (berbaik sangka) diyakini lebih siap menerima nikmat yang diberikan Allah. Penulis mengajak pembaca untuk melakukan evaluasi diri secara terus-menerus, karena perubahan keadaan sering kali berawal dari perubahan karakter dan sikap batin.

Buku ini juga membahas hubungan antara ibadah dan rezeki. Nasrullah menjelaskan bahwa ibadah tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana membangun kedekatan dengan Allah. Salat yang khusyuk, doa yang tulus, dzikir, sedekah, serta memohon ampun (istighfar) dipandang sebagai amalan yang dapat memperkuat ketenangan jiwa sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam mencari rezeki. Penulis mengaitkan berbagai konsep tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis sebagai landasan utama pembahasannya.

Selain hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia juga mendapat perhatian besar. Nasrullah menekankan pentingnya menghormati orang tua, menjaga silaturahmi, memuliakan pasangan, berlaku jujur dalam bekerja, serta membantu orang lain tanpa pamrih. Menurutnya, rezeki sering kali datang melalui perantara manusia, sehingga memperbaiki hubungan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperluas pintu rezeki.

Salah satu pesan menarik dalam buku ini adalah bahwa sedekah bukanlah pengurang harta, melainkan bentuk investasi spiritual. Penulis mendorong pembaca untuk tidak takut berbagi, karena dalam perspektif Islam, kedermawanan diyakini dapat membuka pintu keberkahan yang tidak selalu hadir dalam bentuk materi, tetapi juga berupa kesehatan, ketenangan, kemudahan urusan, dan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Nasrullah juga mengingatkan bahwa konsep "magnet rezeki" bukanlah jalan pintas menuju kekayaan. Buku ini tidak mengajarkan bahwa seseorang akan otomatis menjadi kaya hanya dengan melakukan amalan tertentu. Sebaliknya, penulis menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ikhtiar lahiriah—seperti bekerja keras, meningkatkan keterampilan, berwirausaha, dan berdisiplin—dengan ikhtiar batiniah, yaitu memperbaiki kualitas iman, akhlak, dan niat. Rezeki dipandang sebagai perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketentuan Allah yang diterima dengan penuh tawakal.

Di sepanjang buku, pembaca juga diajak melakukan refleksi terhadap makna rezeki itu sendiri. Rezeki tidak selalu identik dengan uang atau kekayaan, tetapi juga mencakup kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, kesempatan berbuat baik, serta ketenangan hati. Dengan sudut pandang ini, seseorang dapat belajar mensyukuri nikmat yang telah dimiliki sekaligus tetap berusaha memperbaiki kualitas hidupnya.

Secara keseluruhan, Rahasia Magnet Rezeki merupakan buku yang mengajak pembaca melihat rezeki dari perspektif yang lebih luas, yaitu sebagai anugerah yang tidak hanya dipengaruhi oleh usaha fisik, tetapi juga oleh kualitas spiritual dan akhlak. Pesan utamanya adalah bahwa perubahan besar dalam kehidupan sering kali dimulai dari perubahan kecil dalam hati dan perilaku. Ketika seseorang berusaha menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih bersyukur, lebih dermawan, dan lebih dekat kepada Tuhan, ia tidak hanya sedang mengejar rezeki, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan.

Wednesday, June 24, 2026

Gung Ho

Oleh : Ken Blanchard

Penerbit : Elex Media Komputindo, 2021

Tebal : 188 halaman


Buku Gung Ho!: Turn On the People in Any Organization karya Ken Blanchard dan Sheldon Bowles merupakan salah satu buku manajemen dan kepemimpinan yang paling populer di dunia bisnis. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1997 oleh HarperCollins Publishers
, buku ini menggunakan pendekatan cerita (business fable) untuk menjelaskan bagaimana sebuah organisasi yang hampir gagal dapat bangkit kembali melalui perubahan budaya kerja yang sederhana namun sangat kuat. Buku ini terdiri dari sekitar 208 halaman dan hingga kini masih menjadi rujukan bagi para manajer, supervisor, dan pemimpin tim di berbagai industri.

Istilah "Gung Ho" berasal dari bahasa Mandarin yang berarti "bekerja bersama" atau "bekerja dengan semangat". Dalam buku ini, Ken Blanchard menceritakan kisah seorang manajer bernama Peggy Sinclair yang berusaha menyelamatkan sebuah pabrik yang sedang mengalami penurunan kinerja. Dalam perjalanannya, ia belajar dari seorang karyawan senior bernama Andy Longclaw mengenai tiga prinsip sederhana yang mampu mengubah semangat dan produktivitas seluruh organisasi.

Prinsip pertama adalah The Spirit of the Squirrel (Semangat Tupai). Penulis menggunakan analogi tupai yang bekerja keras mengumpulkan makanan untuk menghadapi musim dingin. Tupai tidak bekerja tanpa tujuan; mereka memahami bahwa pekerjaan mereka penting untuk kelangsungan hidup. Dalam dunia kerja, prinsip ini mengajarkan bahwa karyawan akan bekerja lebih bersemangat jika mereka memahami bahwa pekerjaan mereka memiliki makna dan tujuan yang lebih besar daripada sekadar menerima gaji. Ketika seseorang merasa pekerjaannya berkontribusi pada sesuatu yang penting, motivasi intrinsik akan tumbuh dengan sendirinya. Organisasi yang sukses mampu membuat setiap anggota tim memahami mengapa pekerjaan mereka bernilai dan bagaimana kontribusinya berdampak pada pelanggan, perusahaan, maupun masyarakat.

Prinsip kedua adalah The Way of the Beaver (Cara Berang-Berang). Berang-berang dikenal sebagai hewan yang mampu membangun bendungan besar secara kolektif tanpa perlu diawasi terus-menerus. Dalam organisasi, prinsip ini menekankan pentingnya pemberdayaan. Karyawan perlu diberikan kepercayaan, ruang untuk mengambil keputusan, dan kesempatan untuk mengelola pekerjaannya sendiri dalam batas-batas yang jelas. Menurut Blanchard, pemimpin tidak seharusnya mengendalikan setiap detail pekerjaan bawahannya. Sebaliknya, pemimpin harus menetapkan tujuan dan nilai yang jelas, kemudian memberi kebebasan kepada tim untuk menentukan cara terbaik dalam mencapainya. Ketika seseorang merasa dipercaya, rasa memiliki terhadap pekerjaan akan meningkat dan produktivitas pun ikut bertumbuh.

Prinsip ketiga adalah The Gift of the Goose (Hadiah Angsa). Penulis mengamati bagaimana sekawanan angsa selalu mengeluarkan suara saat terbang bersama. Suara tersebut berfungsi sebagai bentuk dukungan dan penyemangat bagi sesama anggota kelompok. Dalam organisasi, prinsip ini diterjemahkan sebagai pentingnya memberikan apresiasi, pengakuan, dan penghargaan kepada orang lain. Banyak pemimpin terlalu fokus mencari kesalahan, tetapi lupa memberikan pujian ketika karyawan berhasil melakukan pekerjaan dengan baik. Padahal, apresiasi yang tulus sering kali lebih efektif dalam meningkatkan motivasi dibandingkan insentif finansial semata. Budaya saling mendukung akan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan membuat orang ingin memberikan performa terbaiknya.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kesederhanaannya. Ken Blanchard tidak menggunakan teori manajemen yang rumit. Sebaliknya, ia menyampaikan pesan melalui kisah yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di balik cerita tersebut, pembaca diajak memahami bahwa produktivitas tinggi bukanlah hasil dari tekanan, pengawasan ketat, atau hukuman, melainkan hasil dari pekerjaan yang bermakna, kepercayaan yang diberikan kepada karyawan, dan budaya penghargaan yang sehat.

Secara keseluruhan, Gung Ho! mengajarkan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis atau teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana manusia di dalamnya diperlakukan. Ketika orang memahami tujuan pekerjaannya, diberi kepercayaan untuk bertindak, dan mendapatkan apresiasi atas kontribusinya, mereka akan bekerja dengan antusiasme yang jauh lebih besar. Inilah esensi dari Gung Ho: membangun organisasi yang penuh semangat, saling percaya, dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama. 

Wednesday, June 17, 2026

Quality Control

Oleh : Wishnu AP

Penerbit : Elex Media Komputindo, 2008

Tebal : 157 halaman

Buku Quality Control karya Wishnu AP (Wisnu AP) merupakan panduan praktis yang menjelaskan bagaimana pengendalian kualitas harus diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah perusahaan. Diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2013 dengan ketebalan sekitar 168 halaman, buku ini ditulis dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, sehingga cocok bagi mahasiswa, praktisi industri, supervisor, hingga pelaku UMKM yang ingin memahami dunia pengendalian mutu secara lebih mendalam.

Gagasan utama yang diangkat penulis adalah bahwa kualitas produk tidak boleh hanya diperiksa pada tahap akhir produksi. Banyak perusahaan terlalu fokus pada inspeksi produk jadi, padahal masalah kualitas sering kali sudah muncul sejak tahap pemilihan pemasok, penerimaan material, penyimpanan bahan baku, hingga proses produksi berlangsung. Karena itu, Quality Control harus hadir di setiap mata rantai proses bisnis agar potensi cacat dapat dicegah sejak dini.

Pada bagian awal, buku ini menjelaskan konsep dasar Quality Control (QC) dan perannya dalam organisasi. QC tidak hanya bertugas mencari kesalahan, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tujuan utama QC bukan sekadar menemukan produk cacat, melainkan mencegah terjadinya cacat tersebut. Penulis menekankan pentingnya budaya kualitas yang melibatkan seluruh departemen, mulai dari purchasing, gudang, produksi, hingga layanan pelanggan.

Selanjutnya, Wishnu AP membahas kontrol supplier. Menurutnya, kualitas produk sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku yang diterima perusahaan. Oleh sebab itu, pemilihan dan evaluasi pemasok menjadi langkah awal yang sangat penting. Supplier harus memiliki kemampuan menyediakan material yang konsisten sesuai spesifikasi sehingga risiko masalah kualitas dapat ditekan sejak awal.

Buku ini juga menguraikan proses kontrol material masuk (incoming quality control). Setiap material yang datang perlu diperiksa sebelum digunakan dalam proses produksi. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan bahwa material memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, material harus dipisahkan dan ditangani sesuai prosedur agar tidak masuk ke jalur produksi dan menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Pembahasan berikutnya adalah mengenai material bermasalah dan kontrol pra-produksi. Penulis menjelaskan bahwa perusahaan harus memiliki sistem identifikasi, pelabelan, dan penanganan yang jelas terhadap material yang tidak memenuhi standar. Selain itu, sebelum produksi massal dimulai, perlu dilakukan berbagai verifikasi untuk memastikan mesin, metode kerja, material, dan operator siap menghasilkan produk sesuai spesifikasi.

Pada tahap produksi massal, Quality Control berperan melakukan pengawasan secara berkelanjutan. Pemeriksaan berkala dilakukan untuk memastikan bahwa proses tetap berada dalam batas toleransi yang diperbolehkan. Dengan pendekatan ini, penyimpangan dapat segera dideteksi sebelum menghasilkan produk cacat dalam jumlah besar. Setelah proses produksi selesai, dilakukan kontrol produk akhir (outgoing quality control) untuk memastikan hanya produk yang memenuhi standar yang dikirim kepada pelanggan.

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai jaminan kontrol produk, internal audit, dan keluhan pelanggan. Menurut Wishnu AP, kualitas tidak berhenti setelah produk dikirim. Perusahaan harus memiliki sistem audit internal yang mampu mengevaluasi efektivitas proses QC secara berkala. Di sisi lain, keluhan pelanggan harus dipandang sebagai sumber informasi yang berharga untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Setiap keluhan perlu dianalisis akar penyebabnya agar masalah serupa tidak terulang kembali.

Buku ini juga memperkenalkan konsep preventive action dan corrective action. Preventive action bertujuan mencegah masalah sebelum terjadi, sedangkan corrective action dilakukan untuk memperbaiki masalah yang sudah ditemukan. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kualitas yang efektif dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Quality Control menunjukkan bahwa kualitas bukanlah tanggung jawab satu departemen semata, melainkan hasil dari kerja sama seluruh bagian perusahaan. Melalui contoh-contoh praktis dan penjelasan yang mudah dipahami, Wishnu AP mengajak pembaca memahami bahwa produk berkualitas lahir dari proses yang berkualitas. Di era persaingan yang semakin ketat, kemampuan menjaga kualitas secara konsisten bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama untuk memenangkan kepercayaan pelanggan dan mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Wednesday, June 10, 2026

Manajemen Krisis Transportasi

Oleh : Haryo Satmiko

Penerbit : Nuansa Cendikia, 2014

Tebal : 164 halaman

Buku Manajemen Krisis Transportasi: Akibat Bencana Alam, Unjuk Rasa, Musim Angkutan Khusus, dan Kecelakaan Transportasi karya Haryo Satmiko membahas bagaimana sistem transportasi harus tetap berfungsi meskipun menghadapi berbagai kondisi darurat. Penulis menekankan bahwa transportasi merupakan urat nadi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga gangguan pada sektor ini dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Buku ini diterbitkan oleh Nuansa Cendekia dan terdiri dari sekitar 164 halaman, dengan fokus utama pada strategi menghadapi krisis yang dapat mengganggu kelancaran transportasi.

Pembahasan diawali dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap berbagai bencana alam. Letak geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api Pasifik menjadikan ancaman gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem sebagai bagian dari tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan transportasi. Dalam situasi seperti ini, transportasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi alat vital untuk evakuasi, distribusi logistik, bantuan kemanusiaan, dan pemulihan pascabencana.

Selain bencana alam, buku ini membahas bagaimana aksi unjuk rasa, kerusuhan sosial, dan gangguan keamanan dapat memengaruhi kelancaran transportasi. Demonstrasi besar yang menutup jalan utama, gangguan pada terminal, pelabuhan, maupun bandara dapat menyebabkan keterlambatan distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik antara penyelenggara transportasi, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Salah satu bagian penting dalam buku ini adalah pembahasan mengenai musim angkutan khusus, seperti masa mudik Lebaran, liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru. Pada periode tersebut, terjadi lonjakan permintaan transportasi yang sangat tinggi sehingga membutuhkan perencanaan yang matang. Penulis menjelaskan pentingnya pengaturan armada, rekayasa lalu lintas, peningkatan kapasitas terminal dan pelabuhan, serta pengawasan keselamatan agar pelayanan tetap berjalan lancar dan aman bagi masyarakat.

Buku ini juga memberikan perhatian khusus pada penanganan kecelakaan transportasi. Menurut Haryo Satmiko, kecelakaan tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, tetapi juga dapat memicu krisis kepercayaan publik terhadap sistem transportasi. Oleh karena itu, setiap insiden harus ditangani melalui prosedur yang jelas, mulai dari evakuasi korban, investigasi penyebab kecelakaan, komunikasi kepada publik, hingga langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Di sepanjang buku, penulis menekankan pentingnya konsep mitigasi risiko dan kesiapsiagaan. Krisis transportasi tidak dapat dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui perencanaan yang baik, pelatihan sumber daya manusia, penyediaan peralatan darurat, sistem informasi yang cepat, dan koordinasi antarlembaga yang efektif. Dalam pandangan penulis, keberhasilan manajemen krisis tidak diukur dari absennya gangguan, melainkan dari kemampuan organisasi untuk merespons secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika gangguan terjadi.

Secara keseluruhan, Manajemen Krisis Transportasi merupakan buku yang memberikan pemahaman praktis mengenai bagaimana menghadapi berbagai situasi darurat dalam sektor transportasi. Karya Haryo Satmiko ini relevan bagi praktisi transportasi, manajer logistik, aparatur pemerintah, mahasiswa perhubungan, maupun siapa saja yang ingin memahami pentingnya kesiapan dan pengelolaan risiko dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat di tengah berbagai ancaman dan ketidakpastian. 

Tuesday, June 2, 2026

The New Manager’s Handbook

Oleh : Morey Stettner

Penerbit : Morey Stettner, 2003

Tebal : 97 halaman

Buku The New Manager’s Handbook karya Morey Stettner merupakan panduan praktis bagi para manajer baru yang sedang beradaptasi dengan tanggung jawab kepemimpinan. Buku ini membahas berbagai tantangan yang sering dihadapi ketika seseorang beralih dari peran sebagai karyawan individu menjadi pemimpin tim. Melalui pendekatan yang sederhana dan aplikatif, Morey Stettner menjelaskan bahwa menjadi manajer yang sukses tidak hanya membutuhkan keahlian teknis, tetapi juga kemampuan memimpin, berkomunikasi, dan mengembangkan orang lain.

Salah satu tema utama dalam buku ini adalah perubahan pola pikir yang harus dilakukan oleh seorang manajer baru. Ketika masih menjadi staf, keberhasilan biasanya diukur dari kinerja pribadi. Namun setelah menjadi manajer, keberhasilan ditentukan oleh kemampuan mengarahkan dan memberdayakan tim untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, seorang manajer harus belajar mendelegasikan tugas, mempercayai anggota tim, dan fokus pada hasil kolektif, bukan sekadar pencapaian individu.

Buku ini juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif. Morey Stettner menjelaskan bahwa banyak masalah di tempat kerja muncul bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena miskomunikasi. Seorang manajer harus mampu menyampaikan arahan dengan jelas, mendengarkan masukan dari tim, serta memberikan umpan balik yang konstruktif. Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka dan produktif.

Selain komunikasi, buku ini membahas keterampilan membangun tim yang solid. Seorang manajer tidak hanya bertugas membagi pekerjaan, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang mendorong kolaborasi dan saling percaya. Stettner menjelaskan bahwa tim yang kuat dibangun melalui penghargaan terhadap kontribusi setiap anggota, penanganan konflik yang tepat, dan kemampuan menyatukan berbagai karakter serta kemampuan dalam satu tujuan yang sama.

Aspek penting lainnya adalah pengambilan keputusan. Dalam perannya, seorang manajer akan menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan keputusan cepat dan tepat. Buku ini mengajarkan pentingnya mengumpulkan informasi yang relevan, mempertimbangkan risiko, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Manajer yang efektif bukanlah mereka yang selalu benar, tetapi mereka yang mampu belajar dari kesalahan dan terus memperbaiki cara pengambilan keputusan.

Morey Stettner juga membahas pentingnya manajemen waktu dan prioritas. Banyak manajer baru merasa kewalahan karena harus menangani berbagai tugas sekaligus. Oleh karena itu, kemampuan menentukan prioritas menjadi kunci untuk menjaga produktivitas. Buku ini mendorong manajer untuk fokus pada aktivitas yang memberikan dampak terbesar bagi organisasi dan menghindari terjebak dalam pekerjaan administratif yang berlebihan.

Dalam pembahasan mengenai motivasi karyawan, penulis menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan dorongan yang berbeda. Seorang manajer harus memahami apa yang memotivasi anggota timnya dan menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka berkembang. Pengakuan atas prestasi, kesempatan belajar, serta kejelasan tujuan kerja merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan keterlibatan dan semangat kerja karyawan.

Buku ini juga menyoroti pentingnya integritas dan keteladanan. Karyawan cenderung lebih menghormati dan mengikuti pemimpin yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Oleh karena itu, seorang manajer harus menjadi contoh dalam hal disiplin, etika kerja, dan tanggung jawab profesional.

Secara keseluruhan, The New Manager’s Handbook merupakan panduan yang sangat berguna bagi siapa pun yang baru memasuki dunia manajemen. Morey Stettner menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi atau jabatan, melainkan kemampuan untuk memengaruhi, membimbing, dan membantu orang lain mencapai potensi terbaik mereka. Buku ini memberikan bekal praktis bagi para manajer untuk membangun tim yang produktif, menghadapi tantangan organisasi, dan berkembang menjadi pemimpin yang efektif di lingkungan kerja modern.

Featured Post

Kehidupan: Asal Usul dan Sifatnya

Oleh :  Hereward Carrington, Ph.D. Penerbit : Portico Publishing, 2011 Tebal : 96 halaman Buku Kehidupan: Asal Usul dan Sifatnya ( Life: Or...

Related Posts