Tuesday, January 27, 2026

Majapahit Peradaban Maritim

Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia

Oleh :  Irawan Djoko Nugroho

Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010

Tebal : 422 halaman

Buku Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia karya Irawan Djoko Nugroho menghadirkan perspektif segar tentang Kerajaan Majapahit yang selama ini lebih sering dipahami sebagai kekuatan agraris dan politik daratan. Melalui pendekatan sejarah maritim, buku ini menegaskan bahwa kejayaan Majapahit justru bertumpu pada kemampuannya menguasai jalur laut, pelabuhan, dan jaringan perdagangan internasional yang membentang luas di kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.

Isi buku ini menguraikan bahwa Majapahit tidak sekadar menguasai wilayah secara teritorial, tetapi membangun sistem kendali atas pelabuhan-pelabuhan strategis Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan tersebut berfungsi sebagai simpul ekonomi, logistik, dan diplomasi yang menghubungkan Majapahit dengan pusat-pusat perdagangan dunia seperti Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Afrika Timur. Dalam pandangan penulis, penguasaan pelabuhan inilah yang menjadikan Majapahit mampu mengatur arus komoditas, pajak, dan pengaruh politik di kawasan maritim Asia.

Irawan Djoko Nugroho juga menjelaskan bagaimana Majapahit membangun kekuatan laut sebagai fondasi utama peradaban maritimnya. Armada laut tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai sarana pengamanan jalur niaga dan penegasan kedaulatan. Buku ini menggambarkan laut bukan sebagai pemisah antarpulau, melainkan sebagai ruang pemersatu Nusantara, tempat berlangsungnya interaksi ekonomi dan budaya yang intens.

Aspek budaya maritim menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Majapahit digambarkan sebagai peradaban kosmopolitan yang terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas lokal. Pertemuan antara pedagang, pelaut, dan utusan dari berbagai bangsa melahirkan pertukaran gagasan, teknologi pelayaran, seni, dan sistem administrasi. Dalam konteks ini, laut menjadi medium utama penyebaran budaya dan pengetahuan, sekaligus sarana integrasi antarwilayah Nusantara.

Buku ini juga menantang narasi sejarah yang terlalu menitikberatkan pada konsep penaklukan darat. Menurut penulis, kekuasaan Majapahit lebih bersifat hegemonik-maritim, di mana kendali ekonomi dan pelabuhan lebih menentukan daripada pendudukan wilayah secara langsung. Melalui sistem aliansi, pengaruh dagang, dan pengawasan jalur laut, Majapahit mampu menciptakan stabilitas regional yang mendukung kejayaan ekonominya dalam jangka panjang.

Pada bagian akhir, Majapahit Peradaban Maritim mengajak pembaca untuk meninjau ulang identitas Indonesia sebagai bangsa bahari. Irawan Djoko Nugroho menegaskan bahwa kejayaan Majapahit memberikan pelajaran strategis bagi Indonesia modern tentang pentingnya laut, pelabuhan, dan konektivitas maritim dalam membangun kedaulatan dan kemakmuran nasional. Buku ini bukan hanya kajian sejarah, tetapi juga refleksi tentang masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Wednesday, January 21, 2026

Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra

Oleh : Hasan Muarif Ambary

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1997

Tebal : 175 halaman


Buku Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra mengungkap peran penting Banten sebagai salah satu kota pelabuhan utama Nusantara yang terhubung langsung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Banten sebagai pusat aktivitas ekonomi, politik, dan budaya yang menjembatani dunia Timur dan Barat sejak masa pra-kolonial hingga awal kedatangan bangsa Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa letak geografis Banten yang strategis di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya pelabuhan transit yang vital bagi kapal-kapal dagang dari Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Komoditas utama seperti lada, hasil bumi, dan produk kerajinan menjadi daya tarik utama yang mengundang pedagang dari berbagai wilayah untuk singgah dan berdagang. Buku ini menunjukkan bahwa kemakmuran Banten tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya mengelola perdagangan laut dan menjaga stabilitas jalur pelayaran.

Buku ini juga mengulas dinamika politik Kesultanan Banten sebagai kekuatan maritim yang mandiri dan berdaulat. Penguasaan atas pelabuhan dan jaringan dagang memberikan Kesultanan Banten posisi tawar yang kuat dalam hubungan internasional. Digambarkan bagaimana Banten mampu menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan berbagai kekuatan asing, sekaligus menghadapi tekanan dan persaingan dari bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda, yang berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Aspek kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembahasan buku ini. Banten digambarkan sebagai kota kosmopolitan tempat bertemunya berbagai etnis, agama, dan tradisi. Interaksi antara pedagang lokal, Arab, Tiongkok, India, dan Eropa melahirkan kehidupan sosial yang majemuk. Proses ini turut mempercepat penyebaran Islam di kawasan Banten, yang kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan dakwah Islam di Jawa Barat.

Dalam buku ini juga menyoroti peninggalan arkeologis Banten sebagai bukti kejayaan kota pelabuhan ini. Masjid, benteng, makam, dan struktur kota lama menjadi saksi bisu aktivitas maritim dan perdagangan yang pernah berlangsung. Melalui analisis terhadap tinggalan-tinggalan tersebut, buku ini memperkuat pemahaman bahwa Banten merupakan bagian integral dari Jalur Sutra Maritim dan memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia.

Wednesday, January 14, 2026

Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra

Oleh : Supratikno Rahardjo, dkk

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 1996

Tebal : 67 halaman


Buku Sunda Kelapa Sebagai Bandar di Jalur Sutra mengulas peran penting Sunda Kelapa sebagai salah satu bandar maritim strategis di Nusantara yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional Jalur Sutra Maritim. Melalui kajian sejarah dan arkeologi, buku ini menempatkan Sunda Kelapa bukan sekadar pelabuhan lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam arus perdagangan global yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Isi buku ini menjelaskan bahwa sejak awal masehi, kawasan Sunda Kelapa telah berkembang sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir barat laut Jawa menjadikan Sunda Kelapa titik persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas niaga di pelabuhan ini melibatkan komoditas penting seperti lada, hasil hutan, dan produk pertanian yang menjadi daya tarik utama pedagang asing. Dengan demikian, Sunda Kelapa berperan besar dalam menghubungkan hinterland Jawa Barat dengan pasar internasional.

Dalam buku ini, Sunda Kelapa juga digambarkan sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Interaksi antara pedagang lokal dan asing melahirkan dinamika sosial yang kosmopolitan. Pengaruh budaya Tiongkok, India, Arab, dan kemudian Eropa tercermin dalam catatan sejarah, temuan arkeologis, serta tradisi lisan yang berkembang di kawasan pelabuhan. Buku ini juga menekankan bahwa proses pertukaran ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga membawa dampak pada perkembangan budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Aspek politik turut menjadi perhatian penting dalam buku ini. Sunda Kelapa diposisikan sebagai aset strategis yang menentukan kekuatan Kerajaan Sunda. Penguasaan atas pelabuhan berarti kontrol terhadap jalur perdagangan dan sumber pendapatan kerajaan. Buku ini menguraikan bagaimana persaingan antar kekuatan regional dan global—termasuk masuknya Portugis pada abad ke-16—mengubah lanskap politik dan ekonomi Sunda Kelapa. Peristiwa jatuhnya Sunda Kelapa dan perubahan namanya menjadi Jayakarta menandai berakhirnya peran pelabuhan ini di bawah Kerajaan Sunda, sekaligus membuka babak baru sejarah kawasan tersebut.

Dalam buku ini juga menekankan pentingnya melihat Sunda Kelapa dalam konteks Jalur Sutra Maritim yang lebih luas. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan bandar-bandar lain di Nusantara yang saling terhubung. Dengan perspektif ini, buku tersebut memperkuat pemahaman bahwa Nusantara sejak lama telah terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia, jauh sebelum era kolonialisme modern.

Wednesday, January 7, 2026

Kerajaan Tarumanegara

Oleh : Luki Mufti Fikri

Penerbit : Pustaka Buana, 1996

Tebal : 99 halaman



Buku Kerajaan Tarumanegara karya Luki Mufti Fikri membahas secara mendalam salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan peradaban awal Indonesia. Melalui pendekatan sejarah dan arkeologi, buku ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul, struktur kekuasaan, kehidupan sosial, serta pengaruh kebudayaan Kerajaan Tarumanegara yang berkembang di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi.

Dalam buku ini, Tarumanegara digambarkan sebagai kerajaan bercorak Hindu yang tumbuh di kawasan strategis dekat sungai dan jalur perdagangan. Luki Mufti Fikri menjelaskan bahwa Sungai Citarum memiliki peran sentral dalam kehidupan kerajaan, baik sebagai sumber penghidupan, sarana transportasi, maupun simbol kekuasaan. Dari sungai inilah Tarumanegara memperoleh kekuatan ekonomi dan politik, sekaligus membangun hubungan dagang dengan wilayah lain di Nusantara dan Asia Selatan.

Sosok Raja Purnawarman menjadi tokoh sentral dalam pembahasan buku ini. Ia digambarkan sebagai raja yang kuat, visioner, dan memiliki kemampuan administratif yang baik. Melalui prasasti-prasasti seperti Prasasti Tugu, Ciaruteun, Kebon Kopi, dan Jambu, buku ini menunjukkan bagaimana Purnawarman menegaskan kekuasaannya sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat. Pembangunan saluran air dan pengelolaan sungai menjadi bukti bahwa Tarumanegara telah memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dan berorientasi pada kemakmuran bersama.

Luki Mufti Fikri juga menguraikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tarumanegara yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, khususnya aliran Wisnu. Pengaruh India tampak jelas dalam bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang digunakan pada prasasti, namun buku ini menegaskan bahwa budaya lokal tetap memainkan peran penting. Akulturasi antara unsur lokal dan Hindu melahirkan bentuk kebudayaan khas Nusantara yang tidak sepenuhnya meniru India, melainkan mengolahnya sesuai konteks setempat.

Selain aspek politik dan budaya, buku ini membahas runtuhnya Tarumanegara secara bertahap. Melemahnya kekuasaan pusat, perubahan jalur perdagangan, serta munculnya kerajaan-kerajaan baru seperti Sunda dan Galuh menjadi faktor penting dalam kemunduran Tarumanegara. Luki Mufti Fikri menekankan bahwa runtuhnya kerajaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi politik yang melahirkan struktur kerajaan baru di Jawa Barat.

Pada bagian akhir, buku Kerajaan Tarumanegara menempatkan Tarumanegara sebagai tonggak penting sejarah Indonesia awal. Kerajaan ini tidak hanya menjadi bukti tertua keberadaan negara terorganisir di Nusantara, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan, pengelolaan lingkungan, dan hubungan internasional sejak masa awal sejarahnya.

Secara keseluruhan, buku karya Luki Mufti Fikri ini memberikan gambaran utuh tentang Kerajaan Tarumanegara sebagai cikal bakal peradaban Hindu di Indonesia. Dengan bahasa yang relatif mudah dipahami dan berbasis pada sumber sejarah yang kuat, buku ini relevan bagi pelajar, peneliti, maupun pembaca umum yang ingin memahami akar sejarah Nusantara secara lebih mendalam.

Wednesday, December 31, 2025

Makasar sebagai Kota Maritim

Oleh : Abdul Rasjid

Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 2000

Tebal : 90 halaman



Buku Makasar sebagai Kota Maritim karya Abdul Rasjid mengulas peran penting Makasar sebagai salah satu pusat peradaban maritim terbesar di Nusantara. Buku ini menempatkan Makasar bukan sekadar sebagai kota pelabuhan, melainkan sebagai simpul strategis perdagangan, kebudayaan, dan kekuatan politik berbasis laut yang membentuk sejarah kawasan Indonesia Timur dan Asia Tenggara.

Isi buku ini menelusuri perkembangan Makasar sejak masa kerajaan Gowa dan Tallo, ketika wilayah ini tumbuh sebagai kekuatan maritim yang terbuka terhadap dunia luar. Abdul Rasjid menjelaskan bahwa letak geografis Makasar yang menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional menjadikannya pelabuhan alami yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, mulai dari Nusantara, Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan inilah yang mendorong Makasar berkembang menjadi kota kosmopolitan dengan dinamika ekonomi yang kuat.

Dalam buku ini, Makasar digambarkan sebagai kota pelabuhan bebas yang menganut prinsip keterbukaan perdagangan. Siapa pun dapat berdagang tanpa diskriminasi, sebuah konsep yang berbeda dari praktik monopoli yang diterapkan bangsa Eropa pada masa kolonial. Prinsip ini membuat Makasar cepat berkembang sebagai pusat distribusi rempah-rempah dan komoditas maritim lainnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penghubung antara wilayah barat dan timur Nusantara.

Abdul Rasjid juga menyoroti kekuatan maritim Makasar yang bertumpu pada teknologi pelayaran dan tradisi bahari masyarakatnya. Perahu-perahu tradisional seperti pinisi menjadi simbol keunggulan orang Makasar dalam navigasi laut dan perdagangan jarak jauh. Budaya pelaut yang kuat membentuk karakter masyarakat Makasar yang berani, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yang turut memengaruhi etos kerja dan semangat perniagaan mereka.

Buku ini tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga menguraikan dinamika politik dan konflik yang melibatkan Makasar, terutama dengan VOC Belanda. Abdul Rasjid menjelaskan bagaimana persaingan kepentingan dagang dan upaya monopoli VOC berujung pada Perjanjian Bongaya, yang menjadi titik balik melemahnya kekuatan maritim Makasar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan laut tidak hanya ditentukan oleh armada dan pelabuhan, tetapi juga oleh strategi politik dan diplomasi internasional.

Pada bagian akhir, Makasar sebagai Kota Maritim menekankan pentingnya melihat kembali identitas maritim Makasar dalam konteks Indonesia modern. Abdul Rasjid mengajak pembaca memahami bahwa kejayaan masa lalu Makasar sebagai kota maritim menyimpan pelajaran berharga tentang pengelolaan pelabuhan, keterbukaan ekonomi, serta peran laut sebagai penghubung peradaban. Warisan sejarah ini menjadi dasar penting untuk membangun kembali visi Indonesia sebagai negara maritim.

Secara keseluruhan, buku Makasar sebagai Kota Maritim memberikan perspektif sejarah yang komprehensif tentang bagaimana laut membentuk Makasar sebagai pusat perdagangan, budaya, dan kekuasaan. Buku ini relevan bagi pembaca yang tertarik pada sejarah maritim Nusantara, identitas kota pelabuhan, dan peran strategis Indonesia dalam jalur pelayaran dunia.

Wednesday, December 24, 2025

Kerajaan Sriwijaya

Oleh : Nia Kurnia

Penerbit : Girimukti Pasaka, 1983

Tebal : 154 halaman



Buku Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia mengajak pembaca mengenal salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara, yaitu Sriwijaya. Melalui bahasa yang ringan namun informatif, buku ini memaparkan bagaimana Sriwijaya tumbuh sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional dan menjadi pusat keagamaan Buddha di Asia Tenggara selama berabad-abad.

Isi buku ini menjelaskan bahwa Sriwijaya berkembang sekitar abad ke-7 Masehi dengan pusat kekuasaan yang diyakini berada di wilayah Sumatra bagian selatan. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali lalu lintas dagang antara India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia menggambarkan bagaimana kekuatan Sriwijaya tidak bertumpu pada wilayah daratan yang luas, melainkan pada kemampuan menguasai laut, pelabuhan, dan jaringan niaga antarpulau.

Dalam buku ini, pembaca diperkenalkan pada sumber-sumber sejarah Sriwijaya, seperti prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, dan Telaga Batu, serta catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing. Melalui sumber-sumber tersebut, Sriwijaya digambarkan sebagai kerajaan yang terorganisasi dengan baik, memiliki sistem administrasi, serta menjunjung tinggi konsep kekuasaan raja sebagai pelindung kesejahteraan dan stabilitas kerajaan.

Nia Kurnia juga menyoroti peran Sriwijaya sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha Mahayana. Banyak pendeta dari Tiongkok dan India singgah di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda. Hal ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga pusat intelektual dan spiritual yang disegani di kawasan Asia.

Buku ini tidak mengabaikan sisi kemiliteran Sriwijaya. Armada laut yang kuat menjadi tulang punggung pertahanan dan pengaruh kerajaan. Dengan kekuatan maritim tersebut, Sriwijaya mampu menjaga keamanan jalur perdagangan sekaligus menekan wilayah-wilayah yang menentang kekuasaannya. Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan di India, turut memperkuat posisi Sriwijaya di panggung internasional.

Pada bagian akhir, buku Kerajaan Sriwijaya membahas kemunduran kerajaan ini, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti serangan Kerajaan Chola dari India Selatan, melemahnya kontrol atas jalur perdagangan, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru di Nusantara. Meskipun akhirnya runtuh, Nia Kurnia menegaskan bahwa warisan Sriwijaya tetap hidup dalam tradisi maritim, budaya, dan sejarah Indonesia.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan gambaran utuh tentang Sriwijaya sebagai simbol kejayaan maritim Nusantara. Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana laut, perdagangan, dan budaya membentuk identitas bangsa Indonesia sejak masa lampau.

Wednesday, December 17, 2025

Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara

Oleh : R. Cecep Eka Permana

Penerbit : Wedatama Widya Sastra, 2019

Tebal : 180 halaman



Buku Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara karya R. Cecep Eka Permana mengajak pembaca menelusuri akar kebudayaan maritim Indonesia melalui tinggalan arkeologis paling tua dan sunyi: gambar cadas atau lukisan pada dinding batu. Melalui pendekatan arkeologi, sejarah, dan antropologi, buku ini menunjukkan bahwa identitas kemaritiman Nusantara bukan sekadar narasi modern, melainkan telah tertanam sejak ribuan tahun lalu dalam ekspresi visual masyarakat prasejarah.

Isi buku ini mengungkap bahwa gambar cadas di berbagai wilayah Nusantara—seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara—bukan hanya representasi estetika, tetapi juga media komunikasi simbolik yang merekam relasi manusia dengan laut. Banyak gambar yang menampilkan perahu, hewan laut, aktivitas pelayaran, hingga simbol-simbol kosmologis yang berkaitan dengan dunia maritim. Hal ini menegaskan bahwa laut telah menjadi ruang hidup, jalur mobilitas, dan sumber pengetahuan bagi masyarakat prasejarah Nusantara.

R. Cecep Eka Permana menjelaskan bahwa penggambaran perahu dalam lukisan cadas memiliki nilai penting dalam memahami teknologi maritim awal. Bentuk perahu yang tergambar menunjukkan tingkat keterampilan teknik yang maju, termasuk penggunaan cadik, sistem penggerak, dan struktur lambung yang memungkinkan pelayaran jarak jauh. Temuan ini memperkuat teori bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut ulung yang mampu menaklukkan samudra dan membangun jejaring antarwilayah jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan maritim besar.

Buku ini juga menyoroti hubungan antara gambar cadas dan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah. Laut tidak hanya dipahami sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai entitas spiritual yang sakral. Simbol-simbol tertentu dalam gambar cadas mencerminkan pandangan kosmologis tentang kehidupan, kematian, dan perjalanan arwah, yang sering kali dikaitkan dengan perahu sebagai sarana transisi antar dunia. Dengan demikian, kemaritiman Nusantara sejak awal telah menyatu dengan dimensi religius dan filosofis.

Selain memaparkan data arkeologis, buku ini juga mengkritisi minimnya perhatian terhadap warisan budaya gambar cadas, terutama yang berkaitan dengan sejarah maritim. Banyak situs yang terancam rusak akibat aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan kurangnya upaya pelestarian. Penulis menekankan pentingnya perlindungan dan penelitian lanjutan agar gambar cadas tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga sumber pembelajaran identitas bangsa.

Pada akhirnya, Jejak Peradaban Kemaritiman pada Gambar Cadas Nusantara menegaskan bahwa sejarah kemaritiman Indonesia tidak dimulai dari catatan tertulis atau pelabuhan-pelabuhan besar, melainkan dari goresan-goresan purba di dinding batu. Buku ini membuka cara pandang baru bahwa laut telah membentuk karakter, budaya, dan peradaban Nusantara sejak masa prasejarah. Karya ini menjadi kontribusi penting dalam memahami jati diri Indonesia sebagai bangsa bahari, sekaligus ajakan untuk merawat ingatan kolektif yang tertulis diam di dinding-dinding alam.

Featured Post

Majapahit Peradaban Maritim

Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia Oleh :  Irawan Djoko Nugroho Penerbit : Suluh Nuswantara Bakti, 2010 Tebal : 422 halaman...

Related Posts