Oleh : Nia Kurnia
Penerbit : Girimukti Pasaka, 1983
Tebal : 154 halaman
Buku Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia mengajak pembaca mengenal salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara, yaitu Sriwijaya. Melalui bahasa yang ringan namun informatif, buku ini memaparkan bagaimana Sriwijaya tumbuh sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional dan menjadi pusat keagamaan Buddha di Asia Tenggara selama berabad-abad.
Isi buku ini menjelaskan bahwa Sriwijaya berkembang sekitar abad ke-7 Masehi dengan pusat kekuasaan yang diyakini berada di wilayah Sumatra bagian selatan. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali lalu lintas dagang antara India, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia menggambarkan bagaimana kekuatan Sriwijaya tidak bertumpu pada wilayah daratan yang luas, melainkan pada kemampuan menguasai laut, pelabuhan, dan jaringan niaga antarpulau.
Dalam buku ini, pembaca diperkenalkan pada sumber-sumber sejarah Sriwijaya, seperti prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, dan Telaga Batu, serta catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing. Melalui sumber-sumber tersebut, Sriwijaya digambarkan sebagai kerajaan yang terorganisasi dengan baik, memiliki sistem administrasi, serta menjunjung tinggi konsep kekuasaan raja sebagai pelindung kesejahteraan dan stabilitas kerajaan.
Nia Kurnia juga menyoroti peran Sriwijaya sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha Mahayana. Banyak pendeta dari Tiongkok dan India singgah di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda. Hal ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga pusat intelektual dan spiritual yang disegani di kawasan Asia.
Buku ini tidak mengabaikan sisi kemiliteran Sriwijaya. Armada laut yang kuat menjadi tulang punggung pertahanan dan pengaruh kerajaan. Dengan kekuatan maritim tersebut, Sriwijaya mampu menjaga keamanan jalur perdagangan sekaligus menekan wilayah-wilayah yang menentang kekuasaannya. Hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan di India, turut memperkuat posisi Sriwijaya di panggung internasional.
Pada bagian akhir, buku Kerajaan Sriwijaya membahas kemunduran kerajaan ini, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti serangan Kerajaan Chola dari India Selatan, melemahnya kontrol atas jalur perdagangan, serta munculnya kekuatan-kekuatan baru di Nusantara. Meskipun akhirnya runtuh, Nia Kurnia menegaskan bahwa warisan Sriwijaya tetap hidup dalam tradisi maritim, budaya, dan sejarah Indonesia.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan gambaran utuh tentang Sriwijaya sebagai simbol kejayaan maritim Nusantara. Kerajaan Sriwijaya karya Nia Kurnia tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana laut, perdagangan, dan budaya membentuk identitas bangsa Indonesia sejak masa lampau.

No comments:
Post a Comment