Oleh : Abdul Rasjid
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional, 2000
Tebal : 90 halaman
Buku Makasar sebagai Kota Maritim karya Abdul Rasjid mengulas peran penting Makasar sebagai salah satu pusat peradaban maritim terbesar di Nusantara. Buku ini menempatkan Makasar bukan sekadar sebagai kota pelabuhan, melainkan sebagai simpul strategis perdagangan, kebudayaan, dan kekuatan politik berbasis laut yang membentuk sejarah kawasan Indonesia Timur dan Asia Tenggara.
Isi buku ini menelusuri perkembangan Makasar sejak masa kerajaan Gowa dan Tallo, ketika wilayah ini tumbuh sebagai kekuatan maritim yang terbuka terhadap dunia luar. Abdul Rasjid menjelaskan bahwa letak geografis Makasar yang menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional menjadikannya pelabuhan alami yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, mulai dari Nusantara, Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan inilah yang mendorong Makasar berkembang menjadi kota kosmopolitan dengan dinamika ekonomi yang kuat.
Dalam buku ini, Makasar digambarkan sebagai kota pelabuhan bebas yang menganut prinsip keterbukaan perdagangan. Siapa pun dapat berdagang tanpa diskriminasi, sebuah konsep yang berbeda dari praktik monopoli yang diterapkan bangsa Eropa pada masa kolonial. Prinsip ini membuat Makasar cepat berkembang sebagai pusat distribusi rempah-rempah dan komoditas maritim lainnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penghubung antara wilayah barat dan timur Nusantara.
Abdul Rasjid juga menyoroti kekuatan maritim Makasar yang bertumpu pada teknologi pelayaran dan tradisi bahari masyarakatnya. Perahu-perahu tradisional seperti pinisi menjadi simbol keunggulan orang Makasar dalam navigasi laut dan perdagangan jarak jauh. Budaya pelaut yang kuat membentuk karakter masyarakat Makasar yang berani, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yang turut memengaruhi etos kerja dan semangat perniagaan mereka.
Buku ini tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga menguraikan dinamika politik dan konflik yang melibatkan Makasar, terutama dengan VOC Belanda. Abdul Rasjid menjelaskan bagaimana persaingan kepentingan dagang dan upaya monopoli VOC berujung pada Perjanjian Bongaya, yang menjadi titik balik melemahnya kekuatan maritim Makasar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan laut tidak hanya ditentukan oleh armada dan pelabuhan, tetapi juga oleh strategi politik dan diplomasi internasional.
Pada bagian akhir, Makasar sebagai Kota Maritim menekankan pentingnya melihat kembali identitas maritim Makasar dalam konteks Indonesia modern. Abdul Rasjid mengajak pembaca memahami bahwa kejayaan masa lalu Makasar sebagai kota maritim menyimpan pelajaran berharga tentang pengelolaan pelabuhan, keterbukaan ekonomi, serta peran laut sebagai penghubung peradaban. Warisan sejarah ini menjadi dasar penting untuk membangun kembali visi Indonesia sebagai negara maritim.
Secara keseluruhan, buku Makasar sebagai Kota Maritim memberikan perspektif sejarah yang komprehensif tentang bagaimana laut membentuk Makasar sebagai pusat perdagangan, budaya, dan kekuasaan. Buku ini relevan bagi pembaca yang tertarik pada sejarah maritim Nusantara, identitas kota pelabuhan, dan peran strategis Indonesia dalam jalur pelayaran dunia.

Kover bukunya sangat sederhana tapi isi sejarahnya luar biasa. Saya salut dengan pembaca yang bisa membaca buku formal begini. Saya selalu kesulitan menyelesaikan bacaan sejarah atau nonfiksi yang pembahasannya kaku.
ReplyDeleteTerima kasih untuk ulasan bukunya.